Berikut ini adalah kutipan langka dari catatan harian yang ditulis oleh Arshad Saheb. Ia adalah bagian dari sebuah Jamaah dari Peshawar yang bertemu dengan Maulana Ilyas di Nizamuddin pada tahun 1944. Kisah luar biasa ini menceritakan secara langsung pengalaman dan peristiwa yang terjadi di Nizamuddin pada masa-masa awal tersebut. Maulana Ilyas sedang sakit parah pada waktu itu dan wafat 3 bulan kemudian. Yang menarik, catatan ini menggambarkan lingkungan yang penuh semangat serta Fikr yang mendalam dari Maulana Ilyas sebelum wafatnya
11 APRIL 1944
(Dari Catatan Harian Arshad Saheb)
Sekitar pukul 1, seorang anak membawa kabar bahwa makanan telah siap. Kamar Maulana Ilyas berada di sudut Masjid. Kami pun menuju ke sana. Makanan telah disajikan di sana dan Maulana Ilyas duduk di atas dipan bertopang bantal dan berselimut. Makanan sederhana yang telah ditetapkan oleh dokternya telah diletakkan di hadapannya. Wajahnya bercahaya sementara tubuhnya telah menyusut hingga tinggal tulang belulang. Dokternya duduk di lantai di dekat dipan tersebut. Kami duduk untuk makan setelah memberi salam hormat kepadanya. Semuanya ada sekitar dua puluh sampai dua puluh lima orang.
Selama makan, kami mendengar Maulana Ilyas menyampaikan komentar berikut:
- “Hakim Saheb (Dokter Maulana Ilyas)! Saya menganggap sebagai kewajiban agama untuk mengikuti petunjuk Anda. Tetapi tidakkah berarti apa-apa bagi Anda bahwa saya terhalang dari pahala Ilahi pada saat Qiyam (Berdiri) dalam Shalat?”
- “Saudara-saudara! Allah SWT memiliki kasih sayang khusus terhadap hamba-hamba-Nya, bahkan terhadap orang-orang kafir sekalipun. Dalam kasih sayang inilah Dia menggunakan kata-kata berikut dalam Al-Qur’an tentang Hazrat Yunus AS: ‘Dan ikan itu menelannya dalam keadaan tercela’ (Quran 37:142)”
Maulana Ilyas menekankan kata Maleem, yaitu tercela. Kemudian beliau berkata:
“Jika demikian besar kasih sayang Allah terhadap orang-orang kafir, bagaimana pula kasih sayang-Nya terhadap orang-orang beriman? Dalam melayani orang-orang beriman terletak inti dari sikap merendah diri (kesediaan untuk melayani orang lain). Dan apakah sikap merendah diri itu? Yaitu merendahkan diri sendiri demi orang-orang beriman. Inilah prinsip utama Pergerakan kita yang tidak dapat dibantah oleh Ulama mana pun, orang awam, ataupun kaum materialis.”
Setelah itu, Maulana Ilyas mengecam kesombongan dan kemunafikan. Dengan itu, pertemuan pun berakhir.
Pada waktu Zuhur, Maulana Ilyas keluar bertopang tongkat, dibantu oleh dua orang. Beliau duduk, bersandar punggungnya ke mimbar. Kemudian beliau berkata:
- “Saudara-saudara! Kita telah menyimpang jauh dari Agama Nabi SAW. Pemerintahan atau bentuk kekuasaan politik apa pun tidak boleh menjadi tujuan seorang Muslim. Ini bukan berarti kita menolak kekuasaan apabila kekuasaan itu diperoleh selagi kita tetap berpegang teguh pada Jalan Nabi SAW. Kita harus memahami bahwa itu bukanlah tujuan kita. Tujuan kita adalah memberikan segalanya, termasuk nyawa kita, di jalan Nabi SAW.”
- “Ingatlah, bahwa pemberantasan perbuatan buruk di kalangan umat Islam tidak terjadi dengan cara menasihati mereka atau mengutuk keburukan mereka. Yang perlu dilakukan adalah memperbesar dan meninggikan sedikit kebajikan yang mungkin ada pada diri mereka. Dengan melakukan hal itu, keburukan-keburukan tersebut akan lenyap dengan sendirinya.”
Setelah itu, orang-orang berdiri untuk Shalat dan dua orang membantu Maulana Ilyas berdiri. Anehnya, seorang yang tidak dapat berpindah tempat tanpa bantuan dua orang mampu melaksanakan Qiyam, Ruku, Sujud, dan Duduk dengan sempurna dan mudah dalam keempat Rakaat Shalat.
Ketika Shalat selesai, Maulana Ilyas berbicara kepada hadirin:
“Ketahuilah bahwa kalian tidak datang ke sini untuk duduk di atas Masnad. Jangan biarkan waktu kalian terbuang sia-sia. Senantiasalah sibuk dengan Zikir dan Talim. Kalian datang ke sini hanya untuk waktu yang sangat singkat”
Kemudian beliau menambahkan dengan penuh keyakinan:
“Bawalah Jamaah yang lebih besar ketika kalian datang kembali dan tinggallah untuk masa yang lebih lama. Sangat perlu untuk tinggal di sini selama mungkin.”
Maulana Ilyas kembali ke kamarnya setelah Shalat. Beliau dibantu oleh dua orang. Kami yang hadir kemudian dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok orang yang menguasai bahasa Arab dan kelompok lainnya yang tidak menguasai bahasa Arab. Petunjuk diberikan kepada orang-orang yang tidak menguasai bahasa Arab dari buku-buku berbahasa Urdu yang berkaitan dengan pergerakan ini. Bagi orang-orang yang menguasai bahasa Arab, beberapa Hadis dibacakan dari Kitab-ul Iman yang kemudian diikuti dengan diskusi. Saya diberitahu bahwa sangat penting bagi setiap orang di Nizamuddin untuk menyelesaikan kajian ini.
Pada malam hari, Jamaah dari Peshawar melaksanakan Dakwah di Paharganj bersama Jamaah-Jamaah lainnya dan menghabiskan sepanjang malam di sana.
12 APRIL 1944
Pada pagi hari, kami berkumpul bersama untuk mengkaji Hadis. Maulana Ilyas terlihat lebih baik pada waktu minum teh. Beliau berkata kepada saya,
“Saudara, kirimkan Jamaah yang lebih besar. Bahkan sesuatu yang sederhana dalam urusan Dunia pun tidak dapat dilakukan tanpa memperoleh ilmu yang diperlukan, sehingga bahkan seorang pembimbing pun diperlukan sebelum seseorang menjadi pencuri. Jika seorang pencuri melakukan pencurian tanpa pelatihan yang tepat, ia akan tertangkap. Maka, bagaimana mungkin seseorang dapat mahir dalam tugas sepenting Dakwah tanpa memperoleh ilmu dan keterampilan di dalamnya?”
Kemudian, dengan lembut, beliau bertanya, “Sekarang saudara, apakah kamu akan membawa Jamaah’?
Saya menjawab, “Jika sebuah Jamaah dari sini (Nizamuddin) datang lebih dahulu ke Peshawar, akan lebih mudah untuk membuat orang-orang di sana tertarik pada Dakwah.”
Maulana Ilyas kemudian berkata:
“Baiklah, untuk itu, kamu sendiri harus menulis surat kepada (si) fulan dan (si) fulan. Kemudian, kamu juga harus meminta beberapa orang berpengaruh lainnya dari Peshawar untuk menulis surat serupa. Tulislah kepada mereka tentang membawa sebuah Jamaah ke Peshawar. Jamaah itu kemudian akan datang ke kotamu. Orang-orang yang selama ini duduk di atas Masnad pun akan menjadi aktif.”
Setelah Zuhur, Maulana Ilyas menyibukkan diri dalam pembentukan Jamaah-Jamaah dan memberikan petunjuk yang diperlukan sebelum keberangkatan mereka.
Pada sore hari, kami mengadakan kajian Hadis sekali lagi dan Maulana Wasif membacakan beberapa laporan yang luar biasa dari Kitab-ul-Jehad.
Banyak orang datang untuk Perayaan Urs (untuk Nizamuddin Aulia). Ajakan untuk Dakwah juga disampaikan kepada mereka.
13 APRIL 1944
Pada waktu minum teh, Maulana Ilyas mengatakan bahwa seperti para Nabi sebelumnya, Nabi kita juga membawa Syariat. Injil Isa tidak membatalkan Taurat, tetapi hanya membuat beberapa perubahan pada perintah-perintahnya. Al-Qur’an Nabi yang mulia SAW, bagaimanapun, membatalkan seluruh kitab suci sebelumnya. Kini terlarang untuk mengikuti kitab-kitab tersebut secara langsung.
Metode Dakwahlah yang membedakan Nabi kita dari para Nabi lainnya. Karena rangkaian Kenabian akan terus berlanjut pada masa para Nabi terdahulu, mereka tidak begitu memberi perhatian padanya sebagaimana Nabi Muhammad SAW. Karena Kenabian akan berakhir setelah beliau, seluruh tanggung jawab Dakwah harus dipikul oleh para pengikutnya.
Maulana Ilyas kemudian memberikan sedikit penjelasan tentang ajaran ‘Tidak ada kesetiaan kepada makhluk dalam hal pelanggaran terhadap hukum Sang Pencipta’. Beliau menegaskan bahwa hal ini harus senantiasa diingat dalam urusan-urusan duniawi dan bahkan dalam sikap seseorang terhadap orang tua, guru, atau pembimbing spiritual.
Sambil menyapa Maulana Ihsanullah, Maulana Ilyas berkata,
“Apakah kamu mengikuti, Molvi Sahib? Pekerjaan ini adalah permata dari generasi-generasi awal Islam. Korbankan segalanya. Bahkan nyawamu untuknya. Semakin besar pengorbanan yang kamu berikan, semakin besar pula yang akan kamu peroleh.
“Kamu dapat mendengarkannya dan menikmatinya. Tetapi kegembiraan semacam itu seperti kegembiraan yang dirasakan seseorang saat melihat buah di kebun milik orang lain. Kegembiraan yang sesungguhnya terletak pada menanam buah itu di kebun milikmu sendiri. Bagaimana hal itu dapat dilakukan tanpa kerja keras dan pengorbanan?”
Hujan turun dengan deras pada waktu Ashar. Kegiatan Dakwah dihentikan pada hari itu. Ketika Maulana Ilyas datang untuk Shalat Ashar, beliau marah mengetahui bahwa Jamaah tidak keluar untuk putaran harian. Beliau berbicara tentang Agama dan pengorbanan orang-orang Mewati dan berkata: “Orang-orang ini adalah para penolongmu. Mereka telah menunjukkan kepadamu jalan yang benar”.
Kemudian beliau memanggil seorang Mewati dan menyuruhnya duduk di sampingnya sambil berkata:
“Ketika saya pertama kali menyuruhnya pergi dan melakukan Pekerjaan Dakwah, ia bertanya apa itu “Tablid”. (Ia begitu tidak tahu sehingga bahkan tidak dapat mengucapkan kata Dakwah dengan benar). Saya kemudian menyuruhnya mengajarkan Kalimat kepada orang-orang, tetapi ia menjawab bahwa ia sendiri tidak mengetahuinya. Saya lalu berkata kepadanya untuk pergi dan memberitahu orang-orang bahwa bahkan orang tua seperti dirinya pun tidak mengetahui Kalimat itu. Maka orang-orang harus pergi kepada seseorang dan mempelajarinya.”
Terinspirasi oleh ceramah Maulana Ilyas, Jamaah pun berangkat setelah Ashar di tengah hujan. Segala puji bagi Allah, hujan berhenti begitu Jamaah mulai berangkat. Cuaca pun menjadi cerah. Program Dakwah dilaksanakan di sebuah desa yang berjarak sekitar setengah mil. Rombongan kembali setelah Maghrib.
Pada hari Kamis, banyak tokoh terkemuka datang dari Delhi untuk memberikan penghormatan kepada Maulana Ilyas. Maka hari ini, ada perkumpulan yang sangat baik meskipun sedang hujan dan menjadi keberuntungan saya dapat melihat begitu banyak wajah yang diberkahi.
14 APRIL 1944
Saya mendapati kebanyakan orang tengah sibuk dengan Zikir dan Tahlil setelah Tahajud. Rekan kami, Maulana Ihsanullah, memimpin Shalat Subuh atas perintah Maulana Ilyas. Lebih dari lima puluh orang hadir pada waktu sarapan.
Maulana Ilyas berkata:
“Pahala membaca satu Surah pendek dalam Al-Qur’an, Surah Al Fatihah, dalam Shalat, lebih besar daripada membaca seluruh Al-Qur’an di luar Shalat. Dari sini, seseorang dapat membayangkan pahala yang diperoleh oleh Jamaah-Jamaah yang mengajak orang-orang untuk menjalankan Shalat.”
“Sebuah Amal diberikan keistimewaan khusus pada waktu dan kesempatan tertentu. Zikir di Jalan Allah mendatangkan pahala yang jauh lebih besar dibandingkan di rumah atau di rumah sakit. Maka sahabat-sahabat, berzikirlah sebanyak dan sesering mungkin”
“Apakah Pergerakan ini? Pergerakan ini adalah untuk mengamalkan ayat: “Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat. (Quran 9: 41)”. Kelalaian dalam hal ini adalah memanggil kemurkaan Allah. Sangat penting untuk mematuhi aturan dan prinsip-prinsip pekerjaan Dakwah. Jika ada aturan atau prinsip yang diabaikan, hukuman Allah yang seharusnya, kalau tidak, akan ditunda, akan datang seketika kepadamu. Pada dua kesempatan di masa lalu, Pergerakan ini telah mengalami kemunduran yang parah akibat pengabaian aturan meskipun secara lahiriah sedang berada di puncaknya. Maka saudara-saudara, patuhilah dengan tegas enam prinsip dasar.”
“Apakah Islam itu? Islam adalah menundukkan kepala di hadapan Perintah-perintah Allah. Setan akan berusaha mencegah kita dari hal itu. Ia menyesatkan kita dengan dua cara:
- “Dengan membuat perbuatan-perbuatan buruk tampak menarik dan dengan demikian, menghasut nafsu kita untuk melakukannya”
- “Dengan membujuk kita untuk meninggalkan sebuah amal yang lebih utama demi amal yang kurang utama. Ia mendorong kita untuk melakukan amal sunnah secara berlebihan padahal ada amal wajib yang sedang menjadi kewajiban kita. Ia membuat kita percaya bahwa kita sedang melakukan sesuatu yang mulia. Tugas terpenting pada saat ini adalah Dakwah dan bahkan ibadah tertinggi sekalipun tidak dapat menggantikan kedudukannya”
Pada waktu minum teh, diputuskan bahwa Jamaah kami dari Peshawar akan berangkat menuju Saharanpur keesokan paginya untuk Dakwah bersama sebuah Jamaah dari Delhi. Kami pergi menemui Maulana Ilyas untuk meminta izin berangkat. Maulana Ilyas bertanya mengapa kami tidak membawa anak-anak muda bersama kami. Kami membuat beberapa alasan, lalu beliau berkata,
“Perhatikanlah Tarbiyah (pembinaan) para pemuda dan manfaatkanlah kepolosan mereka. Tidak perlu bagi seorang pemuda untuk memahami segalanya secara penuh. Yang diperlukan adalah membiarkan mereka mendengar dengan telinga mereka dan membuat mereka sadar akan lingkungan yang baik. Katakan padaku, apa tujuan mengumandangkan Azan di telinga seorang bayi yang baru lahir (yang tidak memahami maknanya)?”
Maulana Ilyas kemudian mendorong kami untuk melakukan Zikir secara rutin dan sering. Beliau berkata,
“Zikir bagaikan benteng yang kokoh agar Setan tidak menyerang dan menguasaimu. Dalam mengingat Allah hati menjadi tenteram. Selain itu, saudara-saudara, ajarkanlah hal-hal yang baik dan mulia kepada anak-anak kalian.”
Di Saharanpur, Molvi Abdul Ghaffar Nadwi menemui kami. Ia telah datang setelah bertemu dengan Maulana Ilyas di Delhi dan membawa pesan berikut dari Maulana Ilyas:
“Kalian datang dan sekarang pulang setelah duduk di atas Masnad selama beberapa hari. Ingatlah, kalian harus mengalami lapar dan haus di jalan Allah. Curahkanlah keringatmu di jalan ini dan bersiaplah untuk mengalirkan darahmu juga.”
Sumber: Kehidupan dan Misi Maulana Ilyas

