6 Poin Tabligh

Enam poin Jamaah Tabligh diperkenalkan dalam sebuah Musyawarah (pertemuan) yang berlangsung pada Agustus 1934. Maulana Ilyas (pendiri Tabligh) dan Syaikhul Hadis Maulana Zakariyya turut hadir dalam Musyawarah tersebut.

Tujuan dari enam poin ini adalah untuk menyederhanakan sebagian sifat terbaik para Sahabat (para sahabat Nabi SAW) sehingga dengan sifat-sifat ini, seseorang mudah membawa dirinya ke jalur untuk menghadirkan Agama (Islam) yang sempurna dalam hidupnya.

Mayoritas orang di dunia ini berpikiran sederhana dan hanya sedikit mengetahui tentang Islam. Saat memberikan Dakwah (mengajak orang lain), yang terbaik adalah mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana, yaitu sifat-sifat penting yang bisa mereka pegang teguh. Dengan sifat-sifat ini, kita membawa mereka ke jalur untuk menghadirkan Agama yang sempurna dalam hidup mereka.

Enam Poin Tabligh yang Sederhana dan Lugas

Enam poin Tabligh itu sendiri sederhana. Tidak ada yang rumit atau tersembunyi dalam 6 poin tersebut. Setiap poin dapat dijelaskan dengan sebaik-baiknya hanya dengan satu atau dua kata. Berikut ini adalah poin-poinnya:

  1. Kalimah (Pengucapan Syahadat)
  2. Shalat (Ibadah Shalat)
  3. Ilmu dan Zikir (Pengetahuan dan mengingat Allah)
  4. Ikramul Muslimin (Menghormati sesama Muslim)
  5. Ikhlas (Ketulusan niat)
  6. Dakwah & Tabligh (Mengajak dan Menyebarkan)

Penting untuk ditegaskan bahwa 6 poin ini bukanlah Islam yang lengkap. Ini juga bukan sebuah inovasi tambahan atas 5 rukun Islam atau 6 rukun Iman. Tujuannya adalah untuk menanamkan pada diri seseorang sifat-sifat yang memudahkan mereka mengamalkan dan menghadirkan Islam yang sempurna dalam hidup mereka.

Tidak Ada Definisi Baku untuk Setiap Poin

Tidak ada pula definisi baku dan terperinci untuk setiap poin. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, 6 poin ini bersifat sederhana. Sebuah definisi atau makna yang lebih dalam dari 6 poin ini mungkin telah disebarkan dari mulut ke mulut, namun ini bukanlah definisi resmi dan hanya berfungsi membantu orang memahami dan menguraikan 6 poin tersebut.

Definisi atau uraian yang paling umum tentang 6 poin ini adalah surat yang ditulis oleh Maulana Yusuf (Amir kedua Tabligh) kepada sebuah Jamaah yang hendak berangkat ke Arab Saudi. Surat ini menjadi rujukan bagi sebagian besar definisi yang disebarkan, namun Maulana Yusuf berhati-hati untuk tidak menyatakan bahwa inilah definisi resmi. Beliau menyampaikan penjelasan umum untuk setiap poin. Berikut kami sajikan penjelasan tersebut:

#1 – Kalimah

Allah telah menyimpan rahasia kesuksesan total manusia di dalam diri kita sendiri. Kemuliaan dan kehinaan, kebahagiaan dan kesulitan, ketenangan dan kecemasan, serta kesehatan dan penyakit, adalah kondisi internal manusia. Perbaikan dan kemunduran kondisi-kondisi ini tidak berkaitan dengan faktor-faktor eksternal.

Allah dapat mendatangkan kehinaan bahkan di tengah kerajaan dan kekayaan, dan Dia dapat mendatangkan kemuliaan bahkan dalam keadaan kemiskinan yang sangat. Harta yang paling berharga dalam diri manusia adalah Yaqin (keyakinan) dan Amal (perbuatan)nya. Jika amalnya baik, maka Allah akan menciptakan keadaan sukses batin, bahkan tanpa kepemilikan materi. Allah adalah pencipta dan pemilik segala sesuatu dan setiap makhluk di alam semesta ini. Dia menciptakan segalanya dengan kekuasaan-Nya. Segala sesuatu diciptakan oleh Allah. Dialah pencipta dan Dia tidak diciptakan. Siapa pun yang diciptakan tidak mampu menciptakan. Apa pun yang dibuat oleh Allah berada di bawah kendali Allah. Dia memiliki segalanya. Dia menggunakan segalanya dan Allah dapat mengubah bentuk segala sesuatu dengan kekuasaan-Nya dan Dia dapat mengubah sifatnya tanpa mengubah bentuknya. Dia dapat mengubah tongkat menjadi ular dan ular menjadi tongkat. Begitu pula, Dia mengendalikan segalanya dan menggunakan hal-hal ini sesuai kehendak-Nya. Dia dapat mendatangkan kehancuran dari sarana penciptaan dan Dia dapat menunjukkan penciptaan dari sarana kehancuran.

Dia mengatur sistem rezeki. Jika Dia berkehendak, Dia dapat memberi rezeki kepada seseorang di padang pasir tandus tanpa sumber materi apa pun, dan Dia dapat menghancurkan kehidupan bahkan di tengah limpahan materi. Nabi Muhammad (SAW) membawa banyak Sunnah yang dengannya seseorang dapat memperoleh kedekatan dengan Allah dan memperoleh manfaat langsung dari kekuasaan Allah. Ketika cara-cara ini diterapkan dalam hidup kita, Allah akan memberikan keberhasilan dalam segala bentuk dan keadaan.

Kalimah "Lailaha-Ila-Allah" menuntut perubahan dalam Iman, pemikiran, dan perbuatan kita. Hanya dengan mengubah Yaqin (keyakinan) kita, Allah telah menjanjikan surga yang berlipat kali lebih luas dari alam semesta ini. Untuk memperoleh Yaqin ini dalam hidup kita:

  1. Kita harus mengajak (memberikan Dakwah tentang) Yaqin ini kepada orang lain. Jelaskan keagungan dan kekuasaan Allah. Untuk menggambarkan Rububiyat-Nya (kekuasaan Allah untuk memberi rezeki dan mengendalikan), kita harus mengaitkan kisah-kisah dari kehidupan para nabi dan para Sahabat.
  2. Kita harus merenungkannya dalam kesendirian agar Yaqin ini merasuk ke dalam hati kita.
  3. Kita harus menangis dan memohon kepada Allah agar diberikan hakikat Yaqin ini.

#2 – Shalat

Kita telah diberi anugerah Shalat (ibadah shalat) agar kita dapat memperoleh manfaat langsung dari Allah SWT. Kita menggunakan setiap bagian tubuh dari kepala hingga kaki dengan kerendahan hati yang besar sesuai dengan cara tertentu yang diridhai Allah SWT. Dalam Shalat, kita memanfaatkan dengan baik mata, telinga, tangan, kaki, lisan, dan sebagainya, serta pikiran dan hati kita dipenuhi rasa takut kepada Allah SWT. Kita harus meyakini bahwa jika anggota tubuh kita dalam Shalat mengikuti perintah Allah, Allah akan memungkinkan kita menerima pahala yang lebih berharga daripada seluruh alam semesta. Jika kita mengulurkan tangan untuk memohon dengan Yaqin (keyakinan) ini, maka Allah akan memenuhi segala kebutuhan kita dari kekuasaan-Nya yang tak terbatas. Dengan Shalat seperti ini, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Dia akan memberikan kelimpahan dalam rezeki kita dan kemampuan untuk menaati-Nya. Untuk mempelajari Shalat seperti ini:

  1. Ajaklah orang lain untuk melaksanakan Shalat dengan konsentrasi dan kesungguhan seperti ini. Jelaskan kepada mereka manfaat melaksanakan Shalat semacam ini di dunia dan akhirat. Sebutkan contoh-contoh Shalat Nabi SAW dan para sahabatnya.
  2. Berlatihlah dan perbaikilah Shalat kita sendiri. Lakukan Wudhu (bersuci) dengan penuh kehati-hatian. Jagalah konsentrasi saat berdiri, duduk, serta dalam Ruku dan sujud.
  3. Setelah Shalat, kita hendaknya merendahkan diri, dengan berpikir bahwa Shalat kita belum layak dipersembahkan kepada Raja di atas segala raja. Kita hendaknya menangis dan merenungkan hal ini serta memohon kepada Allah agar diberikan hakikat Shalat yang sesungguhnya.

#3 – Ilmu dan Zikir

Tujuan ilmu adalah untuk menumbuhkan dalam diri kita kecintaan untuk melakukan Amal (perbuatan) yang baik dan mengetahui apa yang Allah kehendaki dari kita pada waktu dan keadaan tertentu. Siapa pun yang bepergian untuk mempelajari Agama (Islam), seluruh perjalanannya dihitung sebagai Ibadah. Di bawah kaki musafir ini, 70.000 malaikat membentangkan sayap mereka. Seluruh ciptaan langit dan bumi memohonkan ampunan bagi musafir tersebut. Satu orang alim lebih menyulitkan setan daripada ribuan ahli ibadah. Untuk memperoleh Ilmu:

  1. Kita hendaknya mengajak orang lain untuk menuntut Ilmu, dengan menjelaskan keutamaannya.
  2. Kita hendaknya duduk dalam majelis Talim (mengajar dan belajar) dan mengunjungi para ulama. Kita hendaknya menganggap perbuatan ini sebagai Ibadah juga.
  3. Kita hendaknya menangis dan memohon kepada Allah agar diberikan hakikat Ilmu.

Zikir adalah untuk menciptakan pengingatan kepada Allah dalam setiap perbuatan. Siapa pun yang mengingat Allah, Allah pun akan mengingatnya. Allah senantiasa bersama seseorang selama lisannya terus bergerak dalam Zikir kepada Allah. Allah memberikan kepadanya kecintaan dan pengenalan-Nya. Zikir kepada Allah adalah benteng perlindungan dari Setan. Untuk memperoleh Zikir kepada Allah:

  1. Kita hendaknya mendorong orang lain untuk berzikir kepada Allah.
  2. Kita hendaknya mengingat Allah dengan konsentrasi yang mendalam, dengan berpikir bahwa Allah sedang mengawasi kita.
  3. Kita hendaknya memohon kepada Allah, sambil menangis dan meminta agar Allah berkenan memberikan kepada kita hakikat Zikir.

Mengapa Ilmu dan Zikir Digabungkan?

Menurut Maulana Yusuf (Amir kedua Tabligh), Ilmu dan Zikir digabungkan karena hanya melalui sifat Zikir, Amal (perbuatan) dapat dilakukan dengan kesadaran penuh dan pengingatan kepada Allah SWT.

#4 – Ikramul Muslimin

Kita harus menghormati semua Muslim karena mereka adalah pengikut Nabi SAW. Kita harus merendahkan diri kita di hadapan mereka, memenuhi hak-hak mereka dan tidak menuntut hak kita sendiri.

Siapa pun yang menutupi aib sesama Muslim, Allah akan menutupi aibnya. Allah akan terus menolong kita selama kita sibuk menolong orang lain. Siapa pun yang merelakan haknya, Allah akan memberinya tempat di pusat surga. Jika seseorang bersabar dan merendahkan diri demi Allah, Allah akan mengangkat kemuliaannya. Untuk mencapai hal ini:

  1. Kita hendaknya mendorong orang lain untuk menghormati sesama Muslim. Jelaskan nilai seorang Muslim. Sebutkan kisah-kisah keteladanan Nabi SAW dan para sahabatnya.
  2. Kita hendaknya mengamalkan Ikramul Muslimin sendiri.
  3. Kita hendaknya memohon dan menangis kepada Allah SWT agar diberikan akhlak yang baik, kasih sayang, dan sifat tanpa pamrih sebagaimana Nabi SAW.

#5 – Ikhlas

Setiap perbuatan kita hendaknya hanya untuk mencari ridha Allah SWT. Kita tidak boleh melakukan sesuatu demi keuntungan materi atau ketenaran. Sebuah amal kecil dengan niat yang tulus untuk meridhai Allah akan mendatangkan pahala yang besar. Sebaliknya, sebuah amal dengan niat yang salah, betapa pun besarnya, akan menjadi sebab turunnya azab Allah SWT. Untuk memperbaiki Ikhlas kita:

  1. Kita hendaknya mengajak orang lain menuju Ikhlas dan menumbuhkan minat serta kepedulian mereka terhadap perbaikan niat.
  2. Kita hendaknya mengamalkan Ikhlas dengan memeriksa niat kita sebelum, selama, dan setelah setiap perbuatan, bahwa kita melakukan hal ini hanya untuk meridhai Allah SWT.
  3. Setelah menyelesaikan sebuah perbuatan, kita hendaknya berpikir bahwa niat kita masih kurang sempurna dan menangis kepada Allah SWT, memohon agar Dia berkenan memberikan kepada kita Ikhlas.

#6 Dakwah dan Tabligh

Karena tidak akan ada lagi nabi yang datang, tanggung jawab atas upaya Dakwah jatuh kepada Umat ini. Kita harus berusaha agar setiap orang semakin dekat dengan Allah SWT. Untuk itu, kita harus mengorbankan hidup dan harta kita, dan tidak mengharapkan imbalan apa pun dari mereka yang kita beri Dakwah. Kita harus keluar di jalan Allah dan menolong orang lain yang juga berada di jalan Allah.

Siapa yang menunjukkan kasih sayang kepada orang lain, akan ditunjukkan kasih sayang oleh Sang Pencipta. Allah akan memberikan hakikat Iman dan Amal kepada mereka yang berupaya mendekatkan orang lain kepada-Nya. Keluar di jalan-Nya walau hanya sepagi atau sesore lebih baik daripada seluruh alam semesta dan segala isinya (merujuk pada harta materi maupun amalan spiritual). Pahala untuk uang yang dibelanjakan serta Shalat, Zikir, dan sebagainya dilipatgandakan 700.000 kali di jalan Allah. Doa-doa mereka yang keluar di jalan Allah dikabulkan sebagaimana doa para nabi Bani Israel. Merekalah para nabi yang doanya dijawab Allah dengan pertolongan yang tak terlihat, yang biasanya bertentangan dengan sebab-sebab lahiriah. Jika upaya Dakwah dilakukan di seluruh dunia, Allah SWT akan membawa perubahan pada hati seluruh umat manusia di dunia sebagai hasilnya. Untuk mencapai hal ini:

  1. Kita hendaknya mendorong orang lain untuk melakukan upaya ini. Tunjukkan kepada mereka pentingnya dan keutamaannya. Sebutkan kepada mereka kisah-kisah para nabi dan para Sahabat.
  2. Kita hendaknya terlibat dalam upaya ini dengan Pengorbanan, Hijrah (yaitu dengan keluar di jalan Allah) dan Nusrah (yaitu dengan menolong mereka yang berada di jalan Allah). Para Sahabat biasa keluar di jalan Allah dalam kondisi apa pun: saat nikah, panas, dingin, lapar, miskin, sehat atau sakit, kuat atau lemah, muda atau tua.
  3. Kita hendaknya memohon dan menangis kepada Allah agar Dia menerima kita untuk usaha besar ini. Untuk mempelajari pekerjaan ini, setiap saudara diminta untuk meluangkan waktu empat bulan tidak peduli dalam kondisi kehidupan apa pun ia berada. Dengan demikian kita akan meninggalkan rumah, pekerjaan, dan usaha kita untuk meluangkan waktu memberikan Dakwah demi mengamalkan sifat-sifat ini, berpindah dari kota ke kota, negara bagian ke negara bagian, negara ke negara.