Biografi Maulana Ibrahim Dewla mengisahkan seseorang yang mengabdikan hidupnya untuk kerja Dakwah dan Tabligh. Maulana Ibrahim dianggap sebagai anggota paling senior dari Syura Jamaah Tabligh saat ini. Per Agustus 2024, usia Maulana Ibrahim Dewla adalah 91 tahun.
Variasi Ejaan Nama:
- Maulana Ibrahim Sahab Devla
- Moulana Ibrahim Devla
- Molvi Ibrahim Devla
- Molana Ibrahim Dewla
- Ibrahim Dewla Sahab
- Ibrahim Devla Sahab
- Ibrahim Sahab Dewla
- Ibrahim Sahab Devla
Maulana Ibrahim Dewla lahir di kampung halaman ibunya di Devla, Jamboosar, distrik Bharuch, Gujarat, pada 20 Dzulhijjah 1353, bertepatan dengan 25 April 1933.
Klik di sini untuk mempelajari Sejarah Tabligh
Biografi Maulana Ibrahim Dewla: Pendidikan Awal
Maulana Ibrahim Dewla memulai pendidikan awalnya di Darul Ulum Ashrafiyyah Rander. Ia sangat tekun dalam menuntut ilmu dan sering belajar hingga larut malam pukul 12. Ayahnya adalah orang yang religius dan tegas. Ayahnya tidak mengizinkannya keluar rumah dengan bebas, sehingga ia menghabiskan waktunya di rumah mempelajari kitab-kitab Agama. Bahkan, ia membagi waktunya secara seimbang antara mengulang kitab-kitab yang menjadi bagian dari kurikulum dan membaca kitab-kitab baru di luar kurikulum.
Di Darul Ulum Ashrafiyyah Rander, ia belajar bahasa Persia di bawah bimbingan Maulana Sher Muhammad Khuraasaani, bahasa Arab di bawah bimbingan Hadhrat Maulana Mufti Abdul Ghani Kawi, dan berbagai guru lain seperti Maulana Abdus Samad Kachwi, Maulana Abdul Haq Peshawari, Maulana Ashraf Randeri, serta Syaikhul Hadis yang terkenal, Hadhrat Maulana Muhammad Rida' Ajmeri.

Maulana Ibrahim memiliki rasa hormat, kedekatan, dan penghormatan khusus terhadap para gurunya, dan mereka pun memiliki kasih sayang yang besar kepadanya. Hadhrat Maulana Ajmeri sering menyebut namanya dan sangat senang setiap kali bertemu dengannya. Diketahui bahwa para gurunya sering mendoakannya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Darul Ulum Ashrafiyyah, Maulana Ibrahim secara resmi disertifikasi sebagai Alim pada usia 21 tahun.
Pendidikan Lanjutan di Darul Ulum Deoband
Pada tahun 1954, di usia 21 tahun, meskipun telah bersertifikat sebagai Alim, Maulana Ibrahim Dewla, karena kecintaannya terhadap ilmu, melanjutkan studinya di Darul Ulum Deoband, madrasah paling bergengsi dan induk dari semua Madrasah di India.
Di Deoband, jauh dari kampung halamannya di Gujarat, ia menjalani hidup sederhana dan hanya hidup dengan 20 rupee sebulan.
Ia berkesempatan belajar dari para ulama paling terkemuka pada masa itu, seperti Hadhrat Maulana Sayyed Husayn Ahmad Madani, Allamah Balyawi, Syaikhul Adab Maulana Izaz Ali, dan Hadhrat Maulana Zuhur ul Hasan.
Maulana Ibrahim unggul sebagai seorang murid. Selain memperoleh sertifikat kelulusan reguler dari Darul Ulum Deoband, Maulana Ibrahim juga dianugerahi sertifikat khusus langsung dari Hadhrat Maulana Sayyed Husayn Ahmad Madani.
Karier sebagai Pengajar di Darul Ulum Taleemul Islam Devla
Setelah lulus dari Darul Ulum Deoband, berkat keunggulannya, Maulana Ibrahim menerima banyak tawaran untuk mengajar Agama di berbagai Darul Ulum bergengsi di India.
Namun Maulana Ibrahim, sebagai pribadi yang rendah hati, memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya (Devla). Dari tahun 1956 hingga 1971, ia menjadi pengajar di Madrasah Ta'leem ul Islaam Dewla.
Perlu dicatat juga bahwa salah satu alasan mengapa Maulana Ibrahim tidak melanjutkan kariernya di Darul Ulum yang lebih bergengsi adalah dedikasinya terhadap kerja Dakwah dan Tabligh yang telah ia mulai sejak masa remajanya.
Biografi Maulana Ibrahim Dewla: Keterlibatan Awal dalam Kerja Tabligh
Maulana Ibrahim mulai terlibat dalam kerja Dakwah dan Tabligh sejak masa remajanya (pada tahun 1950-an) ketika masih menempuh pendidikan Alim di Darul Ulum Ashrafiyyah Rander.
Ia tidak pernah melewatkan Gasht setiap hari setelah Shalat Asar bersama para gurunya. Meskipun ia masih seorang murid, para gurunya memintanya untuk menyampaikan Bayan.
40 Hari Pertamanya di Jalan Allah
Suatu hari Maulana Ibrahim mendengar sebuah ceramah dari sebuah Jamaah Bombay bersama seorang saudara mualaf bernama Abdur Rahman Malang. Setelah mendengarkan ceramah tersebut, Maulana Ibrahim segera bangkit dan pergi keluar selama 40 hari di Jalan Allah di Azamgarh, India. Dari sana, ia berpartisipasi dalam Ijtima Calcutta dan kemudian pergi ke Markaz di Nizamuddin.
Di Nizamuddin, ia bertemu dengan Hadhratji Maulana Muhammad Yusuf dan mengadakan pertemuan panjang dengannya. Maulana Yusuf saat itu sedang menulis Hayatus Sahabah dan bahkan menghadiahkannya halaman-halaman tulisan tangan dari kitabnya. Khuruj Maulana Ibrahim yang seharusnya berlangsung 40 hari akhirnya berlangsung total 52 hari.
4 Bulan Pertamanya dan Dedikasi Berkelanjutan terhadap Dakwah dan Tabligh
Pada tahun 1966, di usia 33 tahun, Maulana Ibrahim Dewla menghabiskan empat bulan pertamanya di Jalan Allah di Hyderabad.
Tepat setelah 4 bulan, di tahun yang sama, Maulana Ibrahim mulai menghabiskan 7 bulan lagi di Jalan Allah di Irak dan Suriah. Selama perjalanan ini, Maulana Ibrahim berkesempatan menunaikan Haji pertamanya.
Tiga tahun kemudian, pada 1969, di usia 36 tahun, Maulana Ibrahim melakukan khuruj panjang selama 19 bulan ke Turki, Yordania, dan Irak. Selama perjalanan ini, ia kembali dianugerahi kesempatan menunaikan Haji keduanya.
Pada tahun 1972, di usia 38 tahun, Maulana Ibrahim bepergian dalam sebuah Safar Para Elders ke Malaysia, Thailand, Singapura, dan banyak tempat lainnya menemani Hadhratji Maulana Inaamul Hasan.
Biografi Maulana Ibrahim Dewla: Pengabdian Penuh Waktu di Markaz Nizamuddin
Pada tahun 1972, di usia 38 tahun, Maulana Ibrahim bersama keluarganya pindah untuk menetap sepenuhnya di Markaz Nizamuddin. Sejak saat itu, Maulana Ibrahim mengabdikan seluruh hidupnya untuk kerja Dakwah Tabligh dan menempatkan dirinya di bawah Musyawarah.
Di bawah Musyawarah, ia bepergian dalam Jamaah ke Irak, Kuwait, Arab Saudi, Uni Emirat (Dubai, Abu Dhabi, Sharjah), Yordania, Turki, Inggris, Amerika, Bangladesh, Pakistan, dan lain-lain.
Karena pergi Khuruj adalah kebiasaannya, hingga hari ini (2023), Maulana Ibrahim masih melakukan perjalanan-perjalanan ini meskipun usianya sudah lanjut.
Pengajarannya di Madrasah Kashiful Ulum Markaz Nizamuddin
Selama berada di Markaz Nizamuddin, selain kegiatan Dakwahnya, Maulana Ibrahim juga terdaftar sebagai pengajar di Madrasah Kashiful Ulum yang merupakan bagian dari Markaz Nizamuddin.
Ia bahkan pernah menjadi guru dari Maulana Saad di masa muda Maulana Saad. Maulana Saad lahir pada tahun 1965, sehingga jarak usia di antara mereka adalah 32 tahun.
Biografi Maulana Ibrahim Dewla: Pengangkatan ke dalam Syura Alami
Pada tanggal 15 November 2015, di usia 82 tahun, Maulana Ibrahim Dewla diangkat ke dalam Syura Dunia/Syura Alami melalui sebuah Musyawarah yang dipimpin oleh Hj Abdul Wahab Sab di Raiwind, Pakistan.
Syura Dunia yang awalnya didirikan oleh Maulana Inaamul Hassan (Amir ketiga Dakwah dan Tabligh), hanya menyisakan 2 anggota tetap (Hj Abdul Wahab dan Maulana Saad) dari 10 anggota yang ditunjuk awal.
Maulana Ibrahim diangkat bersama 10 anggota lainnya, menjadikan Syura Dunia yang baru beranggotakan 13 orang. Berdasarkan usia, Maulana Ibrahim kini menjadi anggota paling senior ketiga dalam Syura setelah Maulana Yaqub dan Hj Abdul Wahab.
Kekerasan di Markaz Nizamuddin
Pada hari yang tidak menyenangkan, 13 Ramadhan (19 Juni 2016), sekelompok 100-150 preman menyerbu Markaz Nizamuddin dan menyebabkan pertumpahan darah pertama kalinya di Markaz tersebut.
Pertumpahan Darah Ramadhan – 7 Bukti M Saad adalah Dalangnya
Siapa pun yang tidak sejalan dengan Maulana Saad dipukuli dengan keras. 14 orang (termasuk Maulana Ahmad Madhi yang merupakan Khadim dari Maulana Zubair) dipukuli begitu parah hingga harus segera dilarikan ke ICU.
Hampir semua Elders senior meninggalkan tempat tersebut keesokan harinya. Namun Maulana Ibrahim tetap bersikeras bahwa ia bisa mengubah keadaan dari dalam dan terus tinggal di sana selama beberapa minggu lagi.
Kepergiannya dari Markaz Nizamuddin
Setelah menghabiskan 44 tahun hidupnya tinggal di Markaz Nizamuddin, yaitu lebih dari separuh hidupnya, Maulana Ibrahim Dewla meninggalkan Nizamuddin pada 12 Agustus 2016. Saat itu usianya 83 tahun.
Alasan kepergian Maulana Ibrahim dijelaskan dalam sebuah surat yang ia tulis pada 16 Agustus 2016. Singkatnya, ia menjelaskan bahwa karena fitnah dan kekerasan yang mengancam (disebabkan oleh Maulana Saad), sikapnya yang tetap bertahan di sana meskipun ada fitnah tersebut dipandang secara luas sebagai persetujuannya terhadap hal itu.
Setelah melakukan Istikharah selama berhari-hari dan sebuah tanda yang jelas diperlihatkan kepadanya, Maulana Ibrahim meninggalkan tempat yang selama ini menjadi tempat pengabdian hidup, misi, dan jerih payahnya.

Usia Maulana Ibrahim Dewla 90 Tahun
Per Mei 2023, usia Maulana Ibrahim Dewla adalah 90 tahun. Namun, pria yang tak kenal lelah ini masih terus melakukan perjalanan untuk menyampaikan ilmunya kepada para pekerja Dakwah di seluruh dunia.
SELANJUTNYA: Baca Sejarah Lengkap Jamaah Tabligh
Halaman Facebook Maulana Ibrahim Dewla
Maulana Ibrahim Dewla tidak memiliki akun Facebook, dan ia pun tidak menyetujui adanya halaman semacam itu. Para Elders Tabligh selalu berusaha untuk tetap rendah profil. Sebuah halaman Facebook tidak resmi 'Sheikh Maulana Ibrahim Dewla- D.B.' memiliki 43 ribu pengikut per Januari 2023.

