Adab Gasht

Gasht adalah praktik mengunjungi saudara-saudara Muslim. Ini juga disebut Joula (ejaan lain: Jola/Jawla/Jawlah). Adab Gasht berarti etika bagaimana melakukan Gasht.

Jenis-Jenis Gasht

Umumi Gasht

Umumi Gasht berarti mengunjungi masyarakat secara informal tanpa target tertentu. Anda dapat melakukan kunjungan ini secara acak (dari pintu ke pintu) atau melalui daftar. Tujuannya adalah mengunjungi setiap Muslim di wilayah tersebut, tanpa terlewat satu pun. Orang-orang biasanya melakukan Umumi Gasht pada hari dan waktu tertentu. Kunjungan ini biasanya dilakukan di rumah-rumah orang. Sebuah Jamaah juga dapat mengunjungi tempat-tempat umum seperti pasar, kantor, dan taman.

Umumi Gasht adalah bagian dari ‘5 Amal Masjid‘ yang merupakan tindakan-tindakan sederhana yang seharusnya diupayakan oleh sebuah Masjid.

Khususi Gasht

Khususi Gasht berarti mengunjungi orang-orang tertentu. Orang-orang yang dituju ini bisa berupa:

  • Teman atau saudara yang dikenal
    Mereka adalah orang-orang yang kita kenal dan pernah kita temui sebelumnya, biasanya selama Umumi Gasht
  • Para pemimpin komunitas setempat
    Untuk kunjungan ini, sebaiknya membuat janji terlebih dahulu dan membawa beberapa hadiah.
  • Imam/Ulama setempat
    Selama kunjungan ini, kita tidak boleh memberikan Dakwah secara langsung. Sebaliknya, kita harus meminta Doa mereka untuk kita
  • Anggota Jamaah Tabligh lainnya (Pekerja Lama)
    Saat mengunjungi Pekerja Lama yang sudah tidak aktif lagi dalam kerja Dakwah, kita tidak boleh memberikan Dakwah secara langsung. Sebaliknya, kita harus:
    • Berbicara dengan sopan dan penuh hormat
    • Mengakui kontribusi khusus mereka di masa lalu. Semakin rinci detailnya, semakin baik, karena terdengar lebih tulus.
    • Berbagi kabar terbaru tentang kerja Dakwah setempat (juga dikenal sebagai Karguzari).
  • Para profesional/orang kaya
    Untuk kunjungan ini, sebaiknya membuat janji dan mengakui jasa mereka kepada masyarakat. Kita harus menghindari memberikan Dakwah yang mengkritik kekayaan atau status mereka. Ingatlah, Dakwah itu untuk diri kita sendiri.

Adab Gasht (Etika Joula)

Adab Gasht (Joula/Jawla/Jawlah) adalah perilaku yang tepat untuk diikuti selama Gasht. Ini adalah aturan-aturan umum. Perlu diperhatikan bahwa aturan-aturan ini dapat berubah tergantung kondisi setempat dan Musyawarah (konsultasi).

  1. Niat yang Benar Sebelum Berangkat: Berkunjunglah hanya untuk mencari ridha Allah.
  2. Membentuk Dua Kelompok: Satu kelompok akan mengunjungi saudara-saudara, sementara yang lain tetap berada di masjid. Amir akan membagi tugas: satu saudara untuk Zikir, satu untuk berbicara dengan saudara-saudara di masjid hingga sebelum shalat Maghrib, dan satu untuk Istekbal, menyambut para tamu dan mengajak mereka bergabung dalam kajian setelah melaksanakan shalat jika diperlukan.
  3. Pengaturan Zikir: Saudara yang berzikir dapat berhenti ketika saudara-saudara yang pergi Joula kembali. Anda dapat menemukan susunan Joula yang umum di halaman A99.
  4. Perbanyak Doa Sebelum Gasht: Allah menerima doa pada waktu ini. Tunjukkan kerendahan hati di hadapan Allah. Ungkapkan kelemahan dan ketidakberdayaan Anda. Mintalah kepada Allah untuk membantu mengubah hati saudara-saudara yang akan Anda kunjungi. Mohon perlindungan dari nafsu (ego) dan Setan selama Joula.
  5. Waktu Gasht: Untuk Umumi Gasht, usahakan melakukan Gasht sebelum waktu shalat. Orang-orang biasanya melakukannya di antara satu shalat dan shalat berikutnya, dengan kajian setelah shalat berikutnya. Waktu Joula harus disesuaikan dengan waktu ketika saudara-saudara yang akan Anda kunjungi tersedia. Jika mereka tidak tersedia pada waktu tertentu, jangan lakukan Joula saat itu.
  6. Waktu Gasht yang Fleksibel: Tidak ada aturan baku untuk melakukan Gasht setelah Ashar dan memberikan kajian setelah Maghrib. Diskusikan dengan saudara-saudara setempat untuk menentukan waktu terbaik untuk Gasht. Untuk Umumi Gasht, banyak yang menyarankan melakukannya setelah Ashar ketika masih ada cahaya matahari. Orang-orang yang belum mengenal kita mungkin merasa lebih nyaman bertemu kita di siang hari daripada dalam kegelapan. Diskusikan situasi setempat secara menyeluruh sebelum menentukan waktu.
  7. Struktur Tim: Pergilah sebagai Jamaah dengan satu Amir (pemimpin), satu Dalil (pemandu), dan satu Mutakallim (juru bicara).
  8. Pergi dengan Berzikir: Bacalah “Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar.”
  9. Sikap Hormat dan Perilaku: Tundukkan pandangan Anda, karena melihat ke sekeliling adalah panah Setan. Berjalanlah di sisi kanan jalan. Dekati orang yang Anda kunjungi dengan rasa hormat yang besar, apa pun yang Anda lihat atau ketahui tentang mereka.
  10. Mendekat dengan Kerendahan Hati: Allah menasihati Musa (alaihis salam) untuk mengajak Fir'aun (yang bukan seorang mukmin) kepada Allah dengan sikap yang tenang (Ta-Ha:44).
  11. Sikap yang Berdampak: Sikap Anda akan memengaruhi hati saudara-saudara yang Anda kunjungi. Berharaplah dengan tulus agar saudara tersebut segera datang ke masjid untuk mendapatkan manfaat yang maksimal.
  12. Peran Dalil: Dalil akan mengetuk pintu (maksimal 3 kali) sesuai sunnah. Jika tidak ada yang menjawab, saudara-saudara harus pergi.
  13. Perkenalan: Jika saudara tersebut membuka pintu, Dalil akan memperkenalkannya kepada Mutakallim.
  14. Pendekatan Mutakallim: Mutakallim harus mengucapkan salam, berjabat tangan dengan hangat, dan memberikan Dakwah terutama tentang Kalimah Thayyibah. Secara singkat mengingatkannya tentang pentingnya Akhirat, Iman, dan ketaatan kepada Allah.
  15. Menghormati Batasan: Mutakallim tidak boleh meminta untuk mendengar saudara tersebut mengucapkan Kalimah. Ia tidak boleh memaksanya untuk mengucapkannya atau melaksanakan shalat, karena ini dapat menyakiti perasaannya. Mutakallim tidak boleh bersikap seperti penegak aturan atau interogator.
  16. Ajakan ke Masjid: Mutakallim harus mengajak saudara tersebut untuk bergabung dalam kajian di masjid, bukan langsung mengajaknya untuk shalat. Begitu ia bersedia pergi ke masjid, kemungkinan besar ia juga akan shalat.
  17. Memahami Saudara Tersebut: Jika saudara tersebut sama sekali tidak shalat, memintanya untuk langsung shalat mungkin membuatnya tidak kooperatif dan kehilangan minat. Ajakan Mutakallim harus berfokus pada amal baik yang bermanfaat bagi akhirat. Ketika membicarakan Akhirat, kebanyakan orang akan mendengarkan.
  18. Menghindari Perdebatan: Mutakallim tidak boleh terlibat dalam diskusi atau perdebatan yang panjang. Ia harus singkat dan jelas.
  19. Ajakan yang Terarah: Mutakallim tidak boleh mengajak untuk shalat, melainkan mengajak saudara tersebut untuk bergabung dalam kajian di masjid. Begitu ia datang ke masjid, ia juga akan ikut shalat.
  20. Saudara yang Tidak Shalat: Jika saudara tersebut sama sekali tidak shalat, memintanya untuk shalat mungkin membuatnya tidak kooperatif dan kehilangan minat.
  21. Ajakan kepada Amal Baik: Ajakan Mutakallim harus berfokus pada amal baik yang bermanfaat bagi akhirat. Ketika Anda membicarakan Akhirat, tidak ada yang dapat menyangkalnya, dan kebanyakan saudara akan mendengarkan.
  22. Singkat dan Jelas: Mutakallim harus menghindari diskusi atau perdebatan yang panjang. Ia harus singkat dan jelas.
  23. Jaga Kajian Tetap Terarah: Mutakallim tidak boleh berhenti untuk meminta pendapat saudara tersebut selama kajian berlangsung. Ia cukup menyelesaikan pesannya dan mengajak saudara tersebut untuk datang ke masjid.
  24. Lokasi yang Disarankan untuk Dakwah: Lebih baik memberikan Dakwah di luar untuk menghindari melihat sesuatu yang tidak pantas di dalam rumah saudara tersebut.
  25. Memasuki Rumah Saudara Tersebut: Jika saudara tersebut mengundang Anda masuk dengan sungguh-sungguh, mungkin dapat diterima untuk masuk dan berbicara. Amir harus memutuskan berdasarkan situasi yang ada.
  26. Menangani Tawaran Makanan: Jika saudara tersebut menawarkan makanan atau minuman, Amir harus menolak dengan sopan dan menjelaskan bahwa waktu terbatas dan masih banyak tempat yang harus dikunjungi. Jika saudara tersebut bersikeras, terimalah jamuan sederhana seperti air, jus, atau buah, dan lanjutkan diskusi Dakwah. Hindari mengubah kunjungan menjadi acara sosial, yang dapat mengalihkan perhatian dari tujuan Dakwah.
  27. Bersikap Lembut: Jangan bersikap kasar kepada saudara-saudara yang Anda kunjungi. Seluruh proses ini harus ramah dan bertujuan untuk memenangkan hati mereka. Pendekatan ini meningkatkan kemungkinan mereka akan merespons secara positif dan datang ke masjid.
  28. Kajian Mutakallim: Ketika Mutakallim berbicara, semua orang harus menundukkan pandangan atau melihat ke arah Mutakallim, berhenti berzikir, dan mendengarkan. Berdoalah untuk saudara tersebut agar ia dapat segera pergi ke masjid.
  29. Mengantar ke Masjid: Jika saudara tersebut sudah siap, Amir harus mengirimnya ke masjid bersama satu saudara dari Jamaah. Saudara yang mengantar ini tidak boleh ikut bergabung dalam Joula; fokusnya berbeda dari saudara-saudara Joula.
  30. Fleksibilitas dalam Waktu: Jika ada saudara yang tidak dapat langsung pergi ke masjid, Mutakallim harus mendorongnya untuk datang nanti.
  31. Melanjutkan Joula: Joula dapat dilanjutkan ke mana pun pemandu membawa kelompok tersebut.
  32. Mengakhiri Joula: Akhiri Joula dengan waktu yang cukup bagi saudara-saudara untuk kembali ke masjid, menggunakan toilet jika diperlukan, berwudu, dan bergabung shalat bersama Jamaah. Mohonlah Istighfar dan kembalilah ke masjid.
  33. Membubarkan Diri Setelah Joula: Saudara-saudara harus kembali ke masjid terlebih dahulu sebelum pergi ke arah masing-masing. Mereka tidak boleh membubarkan diri dari tempat Joula berakhir.