Jamaah Tabligh adalah gerakan global dalam Islam yang bertujuan menghidupkan kembali Iman umat Muslim dan mendorong mereka kembali kepada Sunnah (amalan) Nabi Muhammad (SAW). Jamaah Tabligh merupakan gerakan Islam terbesar di dunia.
Metode utama yang digunakan Jamaah Tabligh untuk mencapai hal ini adalah dengan mengajak individu bergabung dalam Jamaah, yang sering disebut sebagai ‘Keluar di Jalan Allah’ atau cukup disebut Khuruj, yang dalam bahasa Arab berarti ‘Keluar’.
Jamaah Tabligh bukanlah sebuah aliran atau kelompok eksklusif; anggotanya dapat berasal dari mazhab Islam mana pun. Jamaah Tabligh sangat jauh dari sebuah kultus, yang biasanya memiliki seorang pemimpin otoritatif di puncaknya. Sebaliknya, Jamaah Tabligh terdesentralisasi hingga ke tingkat negara, wilayah, distrik, bahkan hingga ke masing-masing Masjid. Tidak ada perekrutan atau pemecatan dalam Jamaah Tabligh. Orang-orang bebas bergabung dan keluar sesuai keinginan mereka.
Apa itu ‘Keluar di Jalan Allah’ (Keluar dalam Jamaah)?
Keluar dalam Jamaah adalah metode utama bagaimana Jamaah Tabligh menghidupkan kembali Iman umat Muslim.
Sebuah Jamaah adalah kelompok kecil umat Muslim, biasanya berjumlah 3 hingga 10 anggota. Rata-rata jumlah orang dalam sebuah Jamaah bervariasi antar negara, namun Jamaah dengan 7 anggota umumnya dianggap sebagai ukuran standar.
Sebuah Jamaah bepergian ke lokasi tertentu untuk jangka waktu yang telah disepakati. Mereka biasanya menginap di sebuah Masjid, makan, tidur, dan melakukan seluruh kegiatan mereka di Masjid tersebut. Sebuah Jamaah biasanya membawa seluruh perlengkapan untuk memasak, menghidangkan, makan, dan tidur. Kecuali ada pengaturan khusus, anggota Jamaah tidak pulang ke rumah atau melakukan kegiatan lain (seperti bekerja) selama mengikuti Jamaah.
Durasi umum untuk sebuah Jamaah adalah 3 hari, 10 hari, 40 hari, 4 bulan, atau bahkan 1 tahun. Jangka waktu ini diatur sedemikian rupa sehingga anggota kelompok dapat memulai dan mengakhiri perjalanan mereka bersama sebagai satu tim. Jamaah dengan durasi lebih panjang, seperti 40 hari atau 4 bulan, terkadang bepergian ke negara lain. Jamaah 40 hari mungkin mengunjungi negara-negara tetangga, sementara Jamaah 4 bulan mungkin melakukan perjalanan ke tujuan yang lebih jauh.
Mengapa Jamaah begitu efektif dalam mengubah kehidupan seseorang?
Meskipun sebuah Jamaah berfungsi untuk memberikan Dakwah (mengajak) kepada orang lain, dampak utamanya justru dirasakan oleh para anggota yang berpartisipasi sendiri.
Hal ini karena para peserta merasakan ‘suasana Agama (Islam yang murni)’ selama mereka berpartisipasi. Terbenam dalam suasana yang indah dan damai ini memengaruhi hati seseorang, menanamkan kebiasaan baik dan pada akhirnya menghidupkan kembali Iman mereka kepada Allah.
Kegiatan-kegiatan selama Jamaah juga diarahkan pada perbaikan diri. Misalnya, kegiatan ‘Gasht’ melibatkan kunjungan kepada saudara-saudara Muslim dan berbicara tentang Allah dan Agama-Nya. Dengan berbicara kepada orang lain dan berusaha meyakinkan mereka, pembicara itu sendirilah yang pertama kali menjadi yakin.
Fokus pada diri sendiri menumbuhkan kerendahan hati
Dakwah Jamaah Tabligh berorientasi ke dalam diri sendiri. Ini adalah salah satu aspek unik dari Jamaah. Ketika melakukan Dakwah, anggota Jamaah Tabligh dibimbing oleh prinsip-prinsip berikut:
• Dakwah (mengajak orang lain) adalah untuk diriku sendiri.
• Aku lebih membutuhkan nasihatku sendiri.
• Aku lebih buruk daripada orang yang aku beri Dakwah.
Pendekatan ini menanamkan kerendahan hati yang mendalam pada anggota Jamaah, membuat Dakwah mereka lebih lembut dan lebih mudah diterima.
Siapa pendiri Jamaah Tabligh?
Jamaah Tabligh didirikan oleh Maulana Ilyas pada tahun 1926 di India setelah menunaikan haji keduanya.
Awal abad ke-19 merupakan masa yang sangat berat bagi umat Muslim. Islam mengalami masa kemunduran yang serius setelah runtuhnya Khilafah Muslim pada tahun 1924. Banyak ulama Islam (Ulama) yang dibunuh dan disiksa secara sistematis oleh Kekaisaran Inggris setelah gagalnya pemberontakan India pada tahun 1858, yang sebagian besar dipimpin oleh umat Muslim. Maulana Ilyas menyaksikan kemunduran keimanan Islam bahkan di kalangan murid-murid agamanya sendiri. Hal ini sangat memengaruhinya. Ia sering meratap dan menangis dalam doa karena hal ini.
Ketika ditanya tentang gerakannya, Maulana Ilyas berkata:
“Selama masa tinggalku di Madinah (pada tahun 1926), aku diperintahkan untuk menjalankan pekerjaan ini, dan disampaikan kepadaku bahwa Allah SWT akan mengambil alih pekerjaan ini dariku. Selama beberapa hari, aku sangat khawatir. Aku tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh orang yang lemah dan tak berdaya sepertiku. Kemudian aku menceritakannya kepada seorang yang saleh, yang berkata bahwa tidak perlu cemas. Apa yang disampaikan kepadaku bukanlah untuk melaksanakan tugas itu, melainkan bahwa tugas itu akan diambil alih dariku. Jika Allah yang mengambil alih pelayanan ini, Dia akan memastikan hal itu terlaksana dengan cara apa pun yang Dia kehendaki.”
Siapa yang memberikan nama Tablighi-Jamaah?
Nama ‘Jamaah Tabligh’ sama sekali tidak dimaksudkan oleh pendirinya, Maulana Ilyas. Ia tidak ingin gerakan ini dipandang sebagai kelompok eksklusif. Pekerjaan Dakwah (mengajak orang menuju Allah) adalah kewajiban bagi seluruh umat Muslim.
Namun, nama ‘Jamaah Tabligh’ diberikan dan akhirnya digunakan oleh masyarakat luas. ‘Jamaah Tabligh’ sederhananya berarti ‘sekelompok orang yang memberikan Dakwah’. Nama ini akhirnya menjadi begitu luas dikenal sehingga Maulana Ilyas sendiri sesekali menyebut gerakannya sebagai ‘Jamaah Tabligh’.

