Jamaah Tabligh dari perkataan Mufti Mahmud Hasan Gangohi

Ini adalah terjemahan sebuah buku karya Hazrat Allama Mufti Mahmood Sahib (semoga Allah merahmatinya) yang merupakan Grand Mufti Darul Ulum Karachi. Dalam buku ini, beliau menghimpun pandangan Mufti Mahmud Hasan Gangohi mengenai Jamaah Tabligh.

InshaAllah, terjemahan ini masih dalam proses dan akan diperbarui seiring waktu. Kami akan menerjemahkan secara bertahap dan memperbarui dokumen ini sesuai perkembangannya.

Unduh PDF Buku Bahasa Urdu

Daftar Isi Lengkap

1 – Kata Pengantar

4 – Pidato Hazrat Sheikh ul Hadis Maulana Saleemullah Khan Sahib (semoga Allah menjaganya)

5 – Naskah Tulisan Tangan Hazrat Sheikh ul Hadis Maulana Saleemullah Khan Sahib (semoga Allah menjaganya)

6 – Pidato Hazrat Maulana Muhammad Yusuf Ludhianvi Sahib (semoga Allah menjaganya)

8 – Pengantar oleh Mufti Arif Mahmood Sahib (Profesor, Jamia Darul Ulum Karachi)

17 – Perjalanan Hidup Mufti A'zam Darul Ulum Deoband (Hazrat Maulana Mufti Mahmud Hasan Gangohi Sahib, semoga Allah merahmatinya)

19 – Nama dan Garis Keturunan

20 – Kelahiran dan Masa Kecil

20 – Pendidikan

22 – Baiat (Bay'at)

23 – Pemilihan Syekh

23 – Permintaan Baiat dan Ujian dari Sang Syekh

25 – Izin dan Suksesi

27 – Wafat

27 – Dakwah dan Pengajaran, serta Jalan Kesederhanaan

32 – Kisah-Kisah

37 – Dakwah dan Pengajaran

37 – Pernyataan Mufti Sahib (semoga Allah merahmatinya) tentang Dakwah

38 – Perjalanan ke Pegunungan bersama Hazrat Maulana Ilyas Sahib (semoga Allah merahmatinya)

38 – Perjalanan bersama Hazrat Maulana Ilyas Sahib (semoga Allah merahmatinya)

39 – Peristiwa Ceramah bersama Hazrat Maulana Ilyas Sahib

40 – Beberapa Kutipan Pilihan

40 – Kutipan dari Ceramah-Ceramah Hazrat

42 – Sebuah Kutipan dari Shalat Satu Ceramah Hazrat

45 – Keikutsertaan Hazrat Mufti Sahib (semoga Allah merahmatinya) dalam Pertemuan Jamaah, Menginap dalam Jamaah selama Tiga Hari, dan Mendorong Para Pengikutnya untuk Bergabung

46 – Pendekatan Organisasi Jamaah Tabligh dan Musyawarah Hazrat Mufti Mahmood Hasan Gangohi Sahib

52 – Nama Gerakan Reformasi Hazrat Maulana Muhammad Yusuf (semoga Allah merahmatinya)

52 – Hazrat Maulana Muhammad Yusuf (semoga Allah merahmatinya) dan Fokus Maulana Inam-ul-Hasan pada Dakwah

53 – Sifat Dakwah Jamaah Tabligh

55 – Sebuah Mimpi tentang Diterimanya Jamaah

55 – Mimpi Hazrat Mufti Sahib

56 – Mimpi Mufti A'zam Palestina

57 – Rasulullah (semoga selawat dan salam tercurah kepadanya) Bersama Jamaah Tabligh Arab

58 – Mimpi tentang Imam Karam Rasul Bersama Jamaah Tabligh

59 – Beberapa Pernyataan Ulama Terkemuka

59 – (1) Hikmah Hazrat Maulana Ashraf Ali Thanvi (semoga Allah merahmatinya)

60 – Setelah Membebaskan Diri, Seseorang Harus Terlibat dalam Dakwah dan Pengajaran

62 – Pendapat Hazrat Thanvi tentang Jamaah Tabligh

62 – Syekhul Islam Hazrat Maulana Hussain Ahmad Madani (semoga Allah merahmatinya)

Pernyataan Pilihan:

63 – Tulisan Syekhul Hadis Maulana Muhammad Zakariya Sahib

63 – Tulisan Hazrat Maulana Abu Al-Hasan Ali Nadwi (semoga Allah merahmatinya)

Keberatan terhadap Jamaah Tabligh

64 – Keberatan terhadap Buku-Buku Jamaah Tabligh dan Jawabannya

68 – Keberatan terhadap Jamaah Tabligh dan Jawabannya

70 – Apakah Jamaah Tabligh Menyebarkan Bid'ah Kaum Ahl-e-Bid'ah? Jawaban atas Tuduhan Ini

74 – Apakah Agama Tersebar Melalui Pengobatan Medis Tertentu?

79 – Apa Tujuan Dakwah?

82 – Apa Pahala bagi Mereka yang Terlibat dalam Jamaah Tabligh?

85 – Keberatan terhadap Pernyataan Hazrat Maulana Ilyas Sahib

85 – Perbedaan Jihad antara Maulana Inam-ul-Hasan Sahib dan Sistem Jamaah Tabligh

91 – Penjelasan "Fi Sabeelillah" (Di Jalan Allah)

101 – Bolehkah Seseorang Berangkat Dakwah bersama Jamaah Tabligh?

102 – Keberatan terhadap Para Ulama yang Berpartisipasi dalam Dakwah dan Pengajaran

103 – Apakah Meninggalkan Pendidikan Harian Bertentangan dengan Hadis?

104 – Sebuah Ceramah Dakwah

107 – Makna Bangsa yang Kekal

110 – Perlunya Pendidikan dan Dakwah

116 – Hakikat Jamaah Tabligh

122 – Apakah Dakwah Lebih Utama daripada Pendidikan?

122 – Madrasah dan Kegiatan Dakwah

126 – Mengirimkan Guru bersama Jamaah Tabligh

126 – Hubungan Jamaah Tabligh dengan Para Guru Darul Ulum Deoband dan Ulama Kontemporer

130 – Keberatan terhadap Jamaah Tabligh dan Jawabannya

134 – Konsep Perjalanan Tabligh, I'tikaf di Luar Masjid, dan Makan di Luar

140 – Solusi Sesungguhnya untuk Masalah-Masalah Ini adalah Perjalanan Tabligh

141 – Umat Hindu, Muallaf, dan Dakwah

142 – Manfaat dan Perlunya Perjalanan Dakwah

145 – Hukum-Hukum tentang Perjalanan Tabligh

146 – Apakah Dakwah Merupakan Kewajiban Individu?

150 – Dalil Islam tentang Dakwah

153 – Bukti Dakwah di Kalangan Umat Muslim

154 – Apakah Dakwah Dianjurkan atau Wajib?

155 – Apakah Dakwah Merupakan Kewajiban?

157 – Hadis Islam Mengenai Jamaah Tabligh

159 – Sampai Sejauh Mana Dakwah Diwajibkan?

159 – Wajibkah Berangkat bersama Jamaah Tabligh?

160 – Kewajiban Dakwah

162 – Upaya Para Sahabat (semoga Allah meridai mereka) dalam Dakwah

163 – Mendorong Orang untuk Shalat Selama Upaya Tabligh, Bahkan yang Mengenakan Celana Pendek

167 – Kewajiban Menegakkan Shalat

169 – Dakwah sebagai Sarana untuk Melindungi Agama

174 – Dakwah Harus Dimulai dari Rumah Terlebih Dahulu, Baru Kemudian ke Luar

175 – Dakwah dan Ilmu

177 – Dakwah Setelah Shalat

179 – Metode-Metode Dakwah

180 – Pahala Dakwah

181 – Pahala Mengajak Seseorang untuk Shalat adalah Tujuh Ratus Ribu

183 – Pahala Mengajak Seseorang kepada Iman adalah Tujuh Ratus Ribu

183 – Pahala Melangkah Satu Langkah untuk Dakwah adalah Tujuh Ratus Ribu

184 – Bagaimana Terlibat dalam Agama di dalam Jamaah Tabligh

185 – Berangkat Dakwah Tanpa Organisasi Ahl-ul-Wasl

186 – Sebuah Hadis tentang Pembicaraan Jamaah Tabligh

187 – Membuat Alasan di Hadapan Para Dai

188 – Menunda Program Dakwah karena Undangan Makan Malam

190 – Meninggalkan Anak dan Keluarga untuk Berangkat Dakwah, dengan Mengklaimnya sebagai Kewajiban

191 – Berangkat Dakwah Tanpa Izin Ayah dan Menganggapnya sebagai Kewajiban

194 – Dampak bagi Mereka yang Mulai Belajar Agama Terlambat dan Menghadapi Kesulitan dalam Shalat

196 – Membaca Buku Sebelum Melaksanakan Shalat Qadha (yang Tertinggal)

197 – Mendorong Orang Lain untuk Berdakwah Alih-Alih Mempraktikkannya Sendiri

196 – Berangkat Dakwah Tanpa Izin Orang Tua

199 – Berangkat Tanpa Pengaturan Keuangan yang Layak bagi Anak-Anak

200 – Dakwah Berdasarkan Keinginan Pribadi

201 – Memperhatikan Pelajaran dalam Kajian Keagamaan

203 – Mempelajari Sebuah Buku Hadis Sebelum Berangkat dalam Jamaah

204 – Membaca Buku di Masjid Sebelum dan Sesudah Shalat Jumat

205 – Apa yang Harus Dilakukan Ketika Terjadi Perselisihan dalam Sebuah Pertemuan?

206 – Menetapkan Harga Makanan Selama Pertemuan Tabligh

206 – Mengadakan Pertemuan Keagamaan untuk Kepentingan Pribadi

207 – Menjaga Catatan Jamaah Tabligh

208 – Menyeimbangkan Studi dan Kegiatan Dakwah

209 – Melakukan Pekerjaan Lain Selama Berada dalam Jamaah

210 – Pembahasan tentang Dakwah oleh Perempuan

213 – Perjalanan Dakwah bagi Perempuan

214 – Dakwah oleh Perempuan

215 – Partisipasi Perempuan dalam Pertemuan

217 – Pertemuan Dakwah bagi Perempuan

220 – Pertemuan dan Ceramah Perempuan

219 – Perempuan Berdakwah dan Membaca dari Kitab-Kitab Agama

221 – Alih-Alih Hanya Berdakwah kepada Perempuan dalam Pertemuan, Pendidikan Agama yang Layak Lebih Sesuai

224 – Pentingnya Dakwah dan Tabligh

290 – Pentingnya Dakwah

315 – Tujuan dan Metode Dakwah

339 – Manfaat Upaya Dakwah

[HALAMAN 37] Dakwah dan Tabligh

(Halaman 37) Seluruh hidup Hazrat didedikasikan untuk mengajar, berdakwah, penyucian jiwa, pembinaan akhlak, nasihat, dan bimbingan. Fokus beliau tetap pada mengajak dan berdakwah kepada seluruh umat. Beliau menganggapnya sangat penting dan sering mendorong serta menekankan signifikansinya. Beliau menasihati banyak pendatang baru untuk mendedikasikan satu tahun untuk berdakwah dan memandangnya perlu untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan hidup. (Referensi: Hayat-e-Mahmood, Jilid 2, Halaman 157)

Perjalanan Dakwah Mufti Sahib

Hazrat (semoga Allah merahmatinya) melakukan banyak perjalanan, terutama ke Mewat, dan beliau juga menggambarkan keadaan perjalanan-perjalanan tersebut dengan cara yang menyenangkan. (Referensi: Islahi Mawaiz, Halaman 195/3)

Hazrat Maulana Ilyas (RAH) dan Perjalanan ke Pegunungan

(Halaman 38) Pada suatu waktu, Hazrat Moulana Muhammad Ilyas Sahib (Rahmatullah Alaih) melakukan perjalanan ke pegunungan. Saat beliau mendaki gunung, ada seorang Moulana yang menemaninya. Hazrat Moulana, sambil mendaki, bertanya kepada Moulana yang menemaninya, "Sekarang kita sedang mendaki, di mana sebaiknya kita berhenti untuk minum teh?"

Hazrat Moulana Ilyas Sahib (Rahmatullah Alaih) meletakkan tangannya di bahu Moulana tersebut dan berkata, "Saudaraku yang terkasih, pernahkah engkau memikirkan berapa banyak gunung yang didaki oleh Nabi Muhammad ﷺ untuk menyebarkan Agama? Hari ini, untuk pertama kalinya, engkau berkesempatan mendaki gunung. Ini sungguh karunia besar dari Allah, dan kita hendaknya mengarahkan hati kita kepada-Nya dengan rasa syukur."

Perjalanan ke Mewat bersama Hazrat Moulana Ilyas (Rahmatullah Alaih)

Pada salah satu hari musim panas yang paling terik, Hazrat Moulana Muhammad Ilyas (Rahmatullah Alaih) sedang bepergian ke Mewat, sebuah wilayah tempat beliau terlibat dalam menyebarkan ajaran Islam. Perjalanan itu sulit, melewati medan pegunungan.

Selama perjalanan, mereka berhenti di sebuah rumah batu kecil dengan tempat berteduh sederhana. Moulana Ilyas berbaring di salah satu dipan anyaman tradisional (charpai) untuk beristirahat, sementara tiga orang lainnya beristirahat di dipan yang lain.

Begitu beliau tiba, sejumlah besar orang berkumpul untuk menemuinya. Melihat hal ini, Moulana Ilyas segera menginstruksikan mereka untuk pergi, dengan berkata, "Nabi Muhammad ﷺ menanggung kesulitan besar demi menyebarkan Islam. Saat ini, orang-orang ini sedang lelah dan beristirahat, jadi jangan ganggu mereka."

Kemudian, ketika kondisi Moulana Ilyas memburuk akibat kelelahan dan panas, beliau mengubah instruksinya dan berkata kepada para sahabatnya, "Jangan paksa orang-orang untuk pergi. Jangan mempersulit mereka. Biarkan mereka datang sesuai keinginan mereka."

Akhirnya, beliau berpaling kepada salah satu muridnya, Molvi Mahmood, dan memberinya nasihat yang mendalam: "Seorang penuntut ilmu sejati harus mengembangkan kedalaman hati sedemikian rupa sehingga ia benar-benar memahami perjuangan dan kesulitan orang-orang. Sampai ia melakukannya, ia tidak layak untuk membimbing mereka."

Perjalanan bersama Maulana Ilyas dan Sebuah Ceramah di Bhinga

(Halaman 39) Selama sebuah perjalanan, tibalah hari Jumat. Dalam perjalanan menuju salat Jumat, ada sebuah masjid kecil yang hanya digunakan untuk salat Jumat. Penduduk setempat biasanya tidak melaksanakan salat harian di sana, namun sebelum mereka tiba di masjid utama, beberapa orang (kemungkinan penduduk setempat) sudah berada di sana. Melihat mereka, Maulana Ilyas mulai menyampaikan ceramah.

Orang-orang menjadi ribut, dan beberapa berkata, "Maulana Sahib, mari kita pergi ke masjid dulu; kita bicara nanti." Maulana tidak berhenti dan melanjutkan ceramahnya. Seseorang berkata, "Jika kita tidak salat di masjid, itu akan menjadi bentuk tidak menghormatinya."

Setelah salat Jumat di masjid utama, Maulana Ilyas kembali memulai sebuah ceramah. Ketika beliau selesai, orang-orang menyampaikan keberatan, dengan berkata, "Maulana, mengapa Anda terus menyampaikan ceramah? Mengapa perlu berbicara sebanyak itu?"

Mendengar itu, Maulana Muhammad Ilyas menyampaikan pesan yang kuat kepada orang-orang.

Jawaban Beliau: "Apakah satu-satunya tugas kita hanya menyampaikan ceramah? Saya tidak pernah mengatakan itu! Kami tidak menyampaikan ceramah hanya untuk sekadar berbicara. Tugas kami bukan hanya berdakwah; jika memang begitu, kami tidak akan melakukannya. Kami hanya menyampaikan apa yang perlu dan penting."

Beliau melanjutkan menjelaskan pentingnya pesan tersebut, mengulangi poin-poin utamanya. Orang-orang tetap diam, mendengarkan dengan saksama. Bahkan para petugas polisi yang hadir pun memperhatikan.

Setelah menyelesaikan ceramahnya, Maulana Ilyas berkata, "Itu saja yang ingin saya sampaikan. Kami akan pergi sekarang. Semoga kedamaian menyertai kalian."

(Sumber: Aina-e-Qudrat, Halaman 152)

[HALAMAN 53] Nasihat kepada Jamaah Tabligh

Kelompok-kelompok yang biasa mengunjungi Hazrat untuk berkhidmat kepadanya dan meminta nasihat, akan diberikan bimbingan oleh Hazrat. Nasihat-nasihat ini juga berfungsi sebagai prinsip kepemimpinan. Kepada salah satu kelompok tersebut, beliau menasihati:

"Perhatikan disiplin dalam prinsip! Jangan lalai dengan waktu! Menyia-nyiakan waktu adalah kerugian. Bahkan, jika kalian terlibat dalam kegiatan yang tidak produktif, hal itu akan mengubah misi kalian. Pekerjaan itu seperti gelas kaca—sebagaimana kaca itu jernih, ia juga rapuh. Jika ia ternoda, ia kehilangan kemurniannya. Menjaganya tetap utuh memerlukan kehati-hatian."

"Lihatlah, jika seseorang sedang sibuk, jangan ganggu mereka. Misalnya, jika seseorang sedang menulis, jangan menyela mereka dalam percakapan sampai mereka selesai. Ini karena orang yang terganggu perhatiannya seperti seorang ibu dengan anaknya—jika ia melemparkan anaknya ke satu arah lalu bertanya di mana bayinya, apa yang akan kalian katakan? Kalian akan mengatakan dialah yang melemparkan anaknya sendiri!"

"Demikian pula, seseorang yang sedang sibuk tidak boleh diganggu secara tidak perlu. Para ulama khususnya harus memperhatikan waktu mereka. Jika mereka menyia-nyiakan waktu, apa yang akan terjadi? Jika kalian memiliki ulama dalam pertemuan kalian, hormatilah mereka, karena mereka telah menghabiskan sepuluh tahun mempelajari ajaran Allah! Mengapa kalian harus tidak menghormati mereka?"

"Seorang Muslim yang kekal adalah orang yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam. Jika kalian bertindak melawan rasa hormat, kalian bertindak melawan nilai-nilai Islam. Jika kalian menghormati seorang Muslim, mereka akan tetap menjadi Muslim. Demikian pula, hormatilah mereka yang duduk dalam pertemuan keagamaan dan hormatilah para ulama yang hadir."

"Tetaplah sibuk dengan pekerjaan kalian dan selalu fokus pada perbaikan diri, bukan disibukkan dengan mengoreksi orang lain."

[HALAMAN 55] Mimpi Hazrat Mufti Sahib

Hazrat Mufti Sahib menulis sepucuk surat kepada gurunya, Syekhul Hadis Hazrat Maulana Muhammad Zakariya Sahib, yang di dalamnya beliau menyebutkan:

"Saya bermimpi diberkati dengan kunjungan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tetaplah sibuk dengan pekerjaanmu—mengajar dan berdakwah. Persahabatanku akan menyertaimu di surga.'"

"Di sebuah masjid terdekat, kebiasaan salat setelah Subuh dan terlibat dalam Tabligh telah dimulai. Orang-orang juga sudah terbiasa melaksanakan salat mereka, dan kegiatan dakwah telah dimulai sejak hari Kamis."

Balasan dari Syekhul Hadis Hazrat Maulana Muhammad Zakariya Sahib

Hazrat Syekhul Hadis membalas surat ini, menyatakan:

"Ini adalah mimpi yang penuh berkah, semoga Allah menjadikannya baik. Dua tugas yang disebutkan dalam mimpi itu sangatlah penting. Adapun soal Tabligh, harapan tetapku selalu bahwa tanggung jawab penuh atas gerakan dakwah ini jatuh ke pundakmu. Namun, hendaknya itu hanya sebatas yang diperlukan untuk tujuan ini—tidak lebih dari itu."

(Sumber: Sawaneh Hazrat Mufti Mahmood Hasan Sahib dari Maulana Muhammad Shahid Sahib, Baharanpuri, jilid 3, hlm. 35)

[HALAMAN 56] Mimpi Grand Mufti Palestina

Sebuah Jamaah melakukan perjalanan ke Palestina, tempat sang Grand Mufti berada. Mereka melihatnya menangis. Ketika mereka bertanya mengapa, beliau menjawab:

"Saya bermimpi diberkati dengan kunjungan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ mengulurkan tangannya ke arahku dan berkata, 'Tamuku akan datang, dan dia adalah tamu istimewaku.' Pada saat itu, saya melihat seorang pria mendekati Rasulullah ﷺ. Ketika saya memperhatikan lebih dekat, saya menyadari bahwa pria itu berasal dari Jamaah kalian. Saya langsung mengenalinya karena saya pernah melihatnya sebelumnya dalam mimpi itu. Rasulullah ﷺ menyambutnya sebagai tamunya dan memerintahkannya untuk menyucikan dirinya sebelum bertemu dengan sang nabi."

Jamaah itu kemudian melakukan perjalanan ke Tiongkok, tempat sebagian besar penduduknya non-Muslim. Mereka berdiri bersama jamaah Muslim dan meminta izin untuk ikut salat. Jamaah tersebut mengizinkan mereka bergabung.

Kemudian sang Mufti berkata, "Jiwaku memberitahuku bahwa bagian pertama dari perjalanan ini adalah sebuah ujian. Jika kalian melewatinya, kalian akan menerima kekuatan ilahi. Katakan padaku, apa yang kalian bawa?"

Mereka menjawab, "Kami membawa sedikit emas dan perak."

Sang Mufti bertanya, "Apa yang telah kalian lakukan dengannya?"

Mereka menjawab, "Kami belum membelanjakannya."

Sang Mufti melanjutkan: "Ketika seseorang mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar, mereka memperoleh kekuatan yang besar. Setiap kata membawa cahaya yang mencapai hingga ke langit."

Mendengar ini, orang-orang pun ikut serta dalam salat.

Ini adalah tanda pertolongan ilahi, yang menunjukkan bahwa dukungan Allah selalu ada. Namun, seseorang harus mengikuti disiplin dan prinsip dalam kehidupan spiritual maupun sehari-hari. Hati harus dijaga tetap murni, hanya membiarkan zikir kepada Allah di dalamnya.

"Dahulu kami membangun rumah dengan tiga dinding, tetapi sekarang kami membangunnya dengan empat—itu tidak perlu. Kita hendaknya hanya mencari apa yang dibutuhkan untuk keimanan kepada Allah. Apa pun yang telah Allah berikan kepada kita sudah cukup."

(Sumber: Khutbat, jilid 10, hlm. 322)

[Halaman 57] Rasulullah ﷺ Bersama Jamaah Tabligh

(Balasan atas Sebuah Surat)

Yang Terhormat dan Mulia,

Semoga salam dan berkah Allah tercurah kepada Anda.

Kehadiran Rasulullah ﷺ bersama Jamaah Tabligh adalah tanda diterimanya usaha ini di sisi Allah. Hal ini juga menyiratkan bahwa kesuksesan sejati terletak pada mengabdi kepada agama dan menyebarkan pesannya, bukan mencari kenyamanan di rumah. Seseorang tidak sepatutnya merayakan kebahagiaan dalam kesendirian; sebaliknya, mereka hendaknya berusaha untuk berkhidmat kepada keimanan dan menyampaikan ajarannya kepada orang lain.

Dalam Hadis, disebutkan bahwa akan datang suatu masa ketika tetap teguh dalam agama akan sesulit menggenggam bara api yang membakar di tangan. Tantangan keimanan akan meningkat, sehingga sulit untuk diamalkan.

Semoga Allah menerima seluruh khidmat dan upaya kalian untuk keimanan. Semoga Dia memberkati kalian dan para sahabat kalian dengan kehormatan, bimbingan, dan kesejahteraan.

(Ditandatangani oleh: Allama Al-Haj Mahmood Ghaznavi, Referensi: Khutbat, Jilid 3, hlm. 1124)

[HALAMAN 79] Apakah Amal Tabligh (Dakwah) Merupakan Perbuatan Bid'ah?

Pertanyaan:

Anda pasti sudah mengetahui bahwa sebuah kelompok baru bernama "Jamaah Tabligh" sedang bekerja untuk berdakwah di India dan sekitarnya. Kini, atas karunia Allah, gerakan ini telah menyebar cukup jauh. Barangkali tidak ada usaha lain di dunia yang berkembang sebanyak ini. Atas karunia Allah, rantai usaha ini terus berlanjut, dan mungkin akan terus berlanjut lebih jauh lagi. Sebagian orang yang telah bergabung dengan Jamaah Tabligh selama 20, 25, atau 30 tahun telah menekankan bahwa amal ibadah yang paling penting adalah mengembangkan kerendahan hati dan kekhusyukan dalam salat. Mereka membahas hal-hal ini secara ekstensif di antara mereka sendiri, tetapi hanya secara lisan. Mereka sering mengingatkan orang-orang tentang prinsip-prinsip keagamaan ini, tetapi secara praktik, penerapannya tetap terbatas.

Sebuah kekhawatiran khusus muncul mengenai mengapa orang-orang mengatakan bahwa amalan ini adalah sebuah bid'ah. Apakah metode dakwah ini serupa dengan yang diadopsi oleh Nabi Muhammad ﷺ dan para Nabi lainnya (semoga selawat tercurah kepada mereka)? Jika memang demikian, mengapa para ulama dan ahli fikih yang kami hormati (semoga Allah merahmati mereka) tidak mengakuinya sebagai metode dakwah yang benar dalam Islam? Rasulullah ﷺ juga berdakwah, dan gagasan bahwa ada metode alternatif setelah masa beliau sulit dipahami.

Oleh karena itu, mohon berikan jawaban yang rinci—apakah amalan ini benar-benar termasuk dalam kategori bid'ah?

Dengan hormat, Hamba Para Ulama, Mawlana Mu'asis Ashfaqur Rahman

Jawaban:

Puji dan Salawat

Mengingatkan orang secara lisan dan mendorong mereka untuk berbuat baik memang sesuatu yang mulia, namun tujuan Tabligh (dakwah) tidak boleh dibatasi hanya pada pengingat lisan semata. Sangat penting untuk menumbuhkan keikhlasan dalam tindakan karena keikhlasan adalah inti dari semua amal saleh. Juga perlu dipastikan bahwa amal-amal baik tetap benar-benar baik, dan bahwa keikhlasan tetap dijaga.

Berjuang untuk keikhlasan sangatlah penting. Banyak orang, atas karunia Allah, diberikan anugerah ini, namun usaha mereka tetap terbatas pada lingkup yang sempit. Mereka juga tetap teguh dalam komitmen keagamaan mereka. Insya Allah, mereka tidak akan luput dari pahala mereka. Namun, selain upaya dakwah lisan mereka, mereka juga harus memperhatikan aspek-aspek lain. Penting untuk memperhatikan keikhlasan, kerendahan hati, dan kekhusyukan.

Jika seseorang terlibat dalam dakwah, hendaknya kalian mendorongnya, namun kalian juga harus memperhatikan keikhlasan dalam aspek-aspek agama lainnya. Usaha yang dilakukan dengan keikhlasan dan perhatian akan membuahkan hasil yang lebih besar. Jika Allah menghendaki, pahala kalian akan dilipatgandakan. Jika keikhlasan, kerendahan hati, dan kekhusyukan menjadi prioritas kalian, amal kalian akan dicatat dalam catatan amal saleh.

Jika upaya dilakukan untuk mengingatkan Amir (pemimpin) Jamaah tentang hal ini, maka hasil yang positif dapat diharapkan.

Metode Para Nabi (semoga selawat tercurah kepada mereka) dan Kewajiban Umum Kita 1. Nabi ﷺ secara khusus diutus sebagai seorang guru untuk mendidik dan membimbing orang lain, menjadikan mengajar dan mempelajari agama sebagai tanggung jawab setiap orang. 2. Berbagai metode muncul seiring waktu—praktik ini tidak dimulai sebagai lembaga formal atau organisasi dakwah seperti yang terlihat saat ini. 3. Para Sahabat (semoga Allah meridai mereka) biasa mengajar dengan cara-cara yang tidak formal tanpa mendirikan majelis atau kelompok kajian resmi. Mereka mengajar dan belajar di berbagai tempat, seperti pertemuan di masjid, dan di mana pun orang-orang berada.

Sebagai contoh, Abu Darda (semoga Allah meridainya), Abdullah bin Masood (semoga Allah meridainya), dan lainnya biasa mengajar dengan cara-cara informal serupa.

Hazrat Sa'd bin Abi Waqqas (RA) dan Permintaan kepada Hazrat Abdullah bin Masood (RA)

(1) Riwayat dari Abdullah bin Amr (RA):

Abdullah bin Amr (RA) meriwayatkan: Suatu hari, Rasulullah ﷺ keluar dan memasuki masjid. Beliau melihat dua kelompok terpisah—satu sedang membaca Al-Qur'an dan berdoa kepada Allah, sementara yang lain sedang belajar dan mengajar. Rasulullah ﷺ bersabda: "Keduanya berada dalam kebaikan. Satu kelompok membaca Al-Qur'an dan bermunajat kepada Allah, dan jika Allah menghendaki, Dia akan mengabulkan apa yang mereka minta. Kelompok lainnya sedang belajar dan mengajar; aku diutus sebagai seorang guru." Kemudian, Rasulullah ﷺ bergabung dengan kelompok yang sedang belajar dan mengajar. (Sunan Ibn Majah: Kitab Ilmu, Bab tentang Keutamaan Ulama dan Anjuran Menuntut Ilmu, Hadis No. 229)

(2) Riwayat dari Abdullah bin Masood (RA):

Abdullah bin Masood (RA) meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Pelajarilah ilmu dan ajarkanlah kepada orang lain. Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada orang lain. Pelajarilah kewajiban-kewajiban dalam Islam, karena itu adalah kewajiban kalian. Akan datang suatu masa ketika perselisihan akan muncul, dan berbagai cobaan akan tampak sedemikian rupa sehingga dua orang akan berselisih mengenai sebuah kewajiban agama, dan tidak akan ada seorang pun yang dapat memutuskan di antara mereka." (Diriwayatkan oleh Al-Darimi dan Al-Tabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir, serta juga dalam Mishkat Al-Masabih, Kitab Ilmu, Bab 3, Hadis No. 238)

(3) Riwayat dari Ubadah bin Samit (RA):

Ubadah bin Samit (RA) berkata: "Aku telah mengajarkan orang-orang di antara para penulis dan mereka yang menghafal Al-Qur'an." (Musnad Ahmad: Hadis No. 22928, Dar Ihya Al-Turath Al-Arabi)

(4) Riwayat dari Abu Sa'id Al-Khudri (RA):

Abu Sa'id Al-Khudri (RA) berkata: "Seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ dan mengeluhkan kelemahannya dalam membaca Al-Qur'an. Rasulullah ﷺ menasihatinya untuk belajar dan memperbaiki bacaannya." (Hilyat Al-Awliya, Penyebutan Para Penuntut Ilmu, Jilid 1, Halaman 461, Dar Al-Kutub Al-Arabi, Beirut)

Upaya Abdullah bin Masood (RA) dalam Mengajarkan Agama

Hazrat Abdullah bin Masood (RA) melakukan upaya besar dalam mengumpulkan ribuan orang bersama dan membangun sebuah sistem untuk mengajarkan agama. Kemudian, kitab-kitab hadis disusun, lalu lembaga-lembaga didirikan untuk mengajarkan agama. Sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga keagamaan dibentuk untuk pembelajaran yang sistematis.

Metode yang lebih awal lebih efektif dan bermanfaat, tetapi generasi berikutnya mengikuti pendekatan-pendekatan yang berbeda. Mengajarkan agama dengan mengumpulkan orang-orang dan berupaya untuk pendidikan keagamaan selalu ada, tetapi hal itu belum pernah mengambil bentuk sebuah gerakan seperti Jamaah Tabligh. Jamaah Tabligh kini telah mempopulerkan metode ini dan menjadikannya praktik umum.

Adalah keliru untuk mengklaim bahwa amalan ini merupakan sebuah bid'ah (Bid'ah) atau mengatakan bahwa metode ini tidak diperbolehkan. Sebaliknya, dakwah lisan, pengajaran, dan upaya menyebarkan kesadaran keagamaan hendaknya dipandang sebagai kelanjutan dari tradisi Kenabian. Namun, jika metode lain digunakan, hal itu tidak dapat dianggap tidak diperbolehkan, dan juga tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dakwah Islam. Sebaliknya, wajib bagi setiap ulama dan orang berilmu Muslim untuk berkhidmat kepada agama sesuai dengan kemampuannya.

Kesimpulan:

Semoga Allah memberikan kita kemampuan untuk melakukan apa yang benar.

Akhir dari fatwa.

Mufti Muhammad Wafi (RA)