Fadhail Amal Penyembahan Kubur? – Menjawab Tuduhan Tanpa Dasar

Beberapa kalangan Salafi telah mengajukan tuduhan mengenai Fadhaail-e-A’maal dan Fadhaail-e-Sadaqaat, secara khusus mengklaim bahwa buku-buku ini berisi kisah-kisah tanpa dasar yang merusak akidah Islam (Aqeedah). Tuduhan tersebut berfokus pada beberapa kutipan dari buku-buku ini yang diduga mempromosikan keyakinan yang menyimpang.

Kisah Lengkap di Balik Tuduhan Terhadap Fadhail Amal

Izinkan saya mengutip kisah-kisah lengkap dari Fadhaail-e-A’maal yang dipermasalahkan, beserta uraian poin-poin penting dalam setiap kisahnya.

KISAH 1: Kisah Abdaal Bertemu Nabi Khidir (AS)

“Maulana Zakariyya menyebutkan dalam Fazaail-e-Hajj, ‘Suatu ketika salah seorang Abdaal bertemu Nabi Khidir (AS) dan bertanya kepadanya apakah ia pernah bertemu seseorang di antara para wali yang dianggapnya lebih tinggi kedudukannya daripada dirinya sendiri. Menjawab hal ini beliau berkata, Ya, saya pernah. Saya pernah hadir di Masjid Madinah, di mana saya melihat Hazrat Syekh Abdur Razzak menyampaikan Hadis kepada murid-muridnya. Di satu sisi ada seorang pemuda duduk dengan kepala tertunduk di atas lututnya. Saya mendatanginya dan berkata kepadanya, tidakkah engkau melihat majelis yang mendengarkan perkataan Rasulullah? Mengapa engkau tidak bergabung dengan mereka?’ Tanpa mengangkat kepalanya atau menoleh ke arah saya, pemuda itu menjawab: “Di sana engkau melihat mereka yang mendengarkan Hadis dari mulut Abdur-Razzak (hamba Sang Pemberi Rezeki), sedangkan di sini engkau melihat orang yang mendengarkan Hadis langsung dari Ar-Razzak (Allah).” Nabi Khidir (AS) berkata kepadanya, “Jika yang engkau katakan benar, maka engkau seharusnya bisa memberi tahu saya siapa saya ini. Siapakah saya?” Ia pun mengangkat kepalanya dan berkata, Jika firasat saya tidak keliru, maka engkau adalah Nabi Khidir (AS).’ Hazrat Nabi Khidir (AS) berkata, “Dari situ saya menyadari bahwa di antara para wali Allah ada yang begitu tinggi kedudukannya sehingga saya sendiri tidak dapat mengenali mereka.”

Poin-Poin Penting:

  1. Seorang Abdaal (digambarkan sebagai wali yang tersembunyi) bertemu dengan Nabi Khidir (AS), sosok yang disebutkan dalam Al-Qur'an
  2. Nabi Khidir (AS) menceritakan pertemuannya dengan seorang pemuda di masjid Madinah
  3. Sementara orang lain mendengarkan hadis dari seorang guru bernama Abdur Razzak, pemuda itu mengaku menerima ilmu langsung dari “Ar-Razzak” (Allah)
  4. Sebagai bukti kedudukan spiritualnya, pemuda itu berhasil mengenali Nabi Khidir (AS) dengan tepat
  5. Nabi Khidir (AS) menyimpulkan bahwa ada wali yang kedudukannya begitu tinggi sehingga bahkan dirinya tidak dapat mengenali mereka

KISAH 2: Syekh Khair Nurbaf Mengetahui Waktu Kematiannya

“Abul Husain Maliki mengatakan bahwa ia bersahabat dengan Syekh Khair Nurbaf selama bertahun-tahun. Syekh berkata kepadanya, delapan hari sebelum kematiannya. Saya akan wafat pada Kamis sore, pada waktu Shalat Maghrib, dan saya akan dimakamkan pada Jumat setelah Shalat Jumu’ah.” Meskipun beliau berpesan agar saya tidak melupakannya, saya justru lupa akan hal itu, dan pada Jumat pagi, seseorang memberitahu saya tentang kematian Syekh. Saya segera pergi ke tempatnya dan bertanya kepada orang-orang tentang perincian pengalaman kematian Syekh. Seseorang menceritakan kepada saya bahwa Syekh pingsan sejenak tepat sebelum Shalat Maghrib. Kemudian, beliau siuman sedikit dan berkata kepada seseorang di sudut ruangan, yang tidak terlihat oleh orang lain, Berhentilah sejenak; engkau telah diperintahkan untuk melakukan sesuatu dan saya pun telah diperintahkan untuk melakukan sesuatu. Apa yang diperintahkan kepadamu (yaitu mencabut nyawa saya) tidak akan luput darimu, tetapi apa yang diperintahkan kepada saya (yaitu menunaikan Shalat Maghrib) akan luput dari saya. Biarkan saya melakukan apa yang diperintahkan kepada saya.” Beliau kemudian meminta air, berwudhu segar, dan menunaikan Shalat Maghrib. Setelah itu, beliau berbaring di ranjang, memejamkan mata, dan menghembuskan nafas terakhirnya.”

Poin-Poin Penting:

  1. Syekh Khair Nurbaf memprediksi waktu kematiannya secara tepat delapan hari sebelumnya
  2. Beliau mengetahui akan wafat pada Kamis sore saat waktu Shalat Maghrib
  3. Ketika waktunya tiba, beliau berbicara kepada Malaikat Maut (yang tidak terlihat oleh orang lain)
  4. Beliau meminta malaikat itu menunggu sementara beliau menunaikan shalat wajibnya
  5. Setelah menyelesaikan Shalat Maghrib, beliau pun wafat sebagaimana yang diprediksinya

KISAH 3: Pemuda dengan Pengetahuan Kashf

“Syekh Abu Yazeed Qurtubi mendengar dari seseorang bahwa siapa pun yang membaca kalimat itu (Kalimah: La-Ilaaha ill-Allah-ho) sebanyak tujuh puluh ribu kali akan terbebas dari api Neraka. Beliau menyelesaikan satu putaran bacaan untuk istrinya dan banyak putaran lainnya untuk dirinya sendiri. Di dekatnya tinggal seorang pemuda yang, konon, memiliki ‘Kashf’ dan pengetahuan lebih dahulu tentang peristiwa-peristiwa di Surga dan Neraka. Suatu hari, ketika sedang makan bersama, pemuda itu tiba-tiba berteriak keras dan mulai terengah-engah, lalu berseru bahwa ibunya telah dilemparkan ke dalam Neraka (dibakar dalam api Neraka). Syekh Qurtubi dengan seksama mengamati keadaan pemuda itu dan memutuskan untuk membacakan satu putaran bacaan bagi ibunya secara diam-diam, agar dapat dipastikan kebenaran bahwa pemuda itu memang memiliki pengetahuan lebih dahulu tentang hal gaib serta kebenaran keadaan ibunya yang menyedihkan di Neraka. Syekh berkata bahwa ia melakukannya secara begitu diam-diam sehingga tidak seorang pun mengetahuinya, kecuali Allah Yang Maha Kuasa. Namun tak lama kemudian, pemuda itu menyampaikan rasa syukurnya dan berkata bahwa kini ibunya telah terbebas dari api Neraka.”

Poin-Poin Penting:

  1. Syekh Qurtubi mengetahui bahwa membaca Kalimah 70.000 kali dapat menyelamatkan seseorang dari api Neraka
  2. Beliau menyelesaikan bacaan ini untuk istrinya dan dirinya sendiri berkali-kali
  3. Seorang pemuda setempat dikenal memiliki “Kashf” (penyingkapan spiritual) yang memungkinkannya melihat keadaan di Surga dan Neraka
  4. Pemuda itu tiba-tiba berteriak saat makan, mengatakan ia menyaksikan ibunya dilemparkan ke dalam api Neraka
  5. Syekh Qurtubi secara diam-diam melakukan 70.000 bacaan tersebut untuk ibu pemuda itu
  6. Meski dilakukan secara rahasia, pemuda itu tetap berterima kasih kepada Syekh Qurtubi, menandakan bahwa ia mengetahui melalui Kashf bahwa ibunya telah dibebaskan dari api Neraka

KISAH 4: Kisah-Kisah Orang yang Menerima Pertolongan Melalui Mimpi Setelah Mengunjungi Makam

Kisah 4A – Roti Muncul Secara Nyata Setelah Berdoa di Makam Nabi

“Hazrat Ibn Jalaa menceritakan, “Ketika berada di Madinah, saya pernah menderita kelaparan yang luar biasa. Rasa lapar itu menjadi begitu tak tertahankan sehingga saya mendatangi makam Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya menderita kelaparan yang hebat. Kini saya adalah tamu Anda.” Setelah itu, saya pun tertidur dan dalam mimpi, saya melihat Rasulullah memberikan saya sepotong roti. Saya memakan separuhnya, dan ketika saya terbangun, saya mendapati diri saya masih memegang separuh potongan roti itu di tangan saya.”

Kisah 4B – Makanan yang Dikirim Seseorang Setelah Perintah Nabi dalam Mimpi

“Tiga orang berpuasa selama berhari-hari karena mereka tidak dapat menemukan makanan. Shalat seorang dari mereka pergi ke makam Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, kelaparan telah melanda kami.” Tak lama kemudian… seorang laki-laki dari keluarga Alawi mengetuk pintu. Kami membuka pintu dan mendapati seorang laki-laki bersama dua pelayan, masing-masing membawa sebuah keranjang besar berisi banyak makanan lezat.” Laki-laki dari keluarga Alawi itu berkata sebelum pergi, “Kalian telah mengadukan kelaparan kepada Rasulullah. Saya telah melihat Rasulullah dalam mimpi dan beliau memerintahkan saya untuk membawakan makanan bagi kalian.”

Kisah 4C – Pertukaran dalam Mimpi yang Berujung pada Transaksi Unta Secara Nyata

“Suatu ketika sekelompok orang Arab pergi mengunjungi makam seseorang yang sangat dermawan dan bermalam di sana. Shalat seorang dari mereka dalam mimpi melihat orang yang dimakamkan itu memintanya untuk menjual untanya dengan unta Bakhti miliknya (Bakhti adalah jenis unta yang bagus). Orang itu setuju, dan orang yang dimakamkan itu bangkit lalu menyembelih unta tersebut. Ketika orang itu terbangun, ia mendapati unta itu berdarah. Ia pun menyembelihnya dan membagikan dagingnya. Ketika rombongan itu kembali, pada suatu titik, seorang laki-laki datang menunggang unta Bakhti dan menanyakan apakah di antara mereka ada seorang dengan nama tertentu. Orang yang bermimpi itu maju dan berkata bahwa dialah orangnya. Orang itu pun menceritakan mimpinya. Penunggang unta itu berkata bahwa orang yang dimakamkan itu adalah ayahnya dan telah mengarahkannya dalam mimpi untuk memberikan unta ini kepadanya. Ia pun memberikan hewan itu kepada orang tersebut dan pergi.”

Poin-Poin Penting (untuk semua kisah):

  1. Orang-orang yang menghadapi kesulitan (kelaparan atau kebutuhan) mendatangi makam Nabi Muhammad ﷺ atau orang lain yang telah wafat
  2. Mereka langsung berbicara kepada orang yang telah wafat itu, meminta bantuan
  3. Bantuan datang dalam berbagai bentuk – roti yang muncul secara nyata setelah mimpi, makanan yang dikirim melalui orang lain, atau unta yang diberikan sebagai ganti
  4. Dalam setiap kasus, orang yang telah wafat muncul dalam mimpi dan baik memberikan bantuan secara langsung maupun mengarahkan orang lain untuk membantu
  5. Kisah-kisah ini menyiratkan bahwa orang yang telah wafat mengetahui keadaan orang yang masih hidup dan dapat menanggapi permintaan bantuan

Kisah-kisah lengkap ini memberikan konteks bagi tuduhan yang menyatakan bahwa narasi-narasi ini bertentangan dengan tauhid Islam dengan menyiratkan bahwa sebagian orang memiliki pengetahuan tentang hal gaib atau bahwa orang yang telah wafat dapat membantu yang masih hidup.

Tanggapan Menyeluruh Terhadap Tuduhan-Tuduhan Ini

Mukjizat dan Peristiwa Supranatural Telah Mapan dalam Tradisi Islam

Keberatan yang diajukan oleh sebagian kalangan Salafi mencerminkan sudut pandang mereka sendiri. Ahlus-Sunnah wal-Jamaah, bersama para Salafi yang sejati, meyakini dengan teguh bahwa mukjizat (baik Mu’jizah bagi para nabi maupun Karamah bagi orang-orang saleh) telah mapan berdasarkan Al-Qur'an maupun Hadis-hadis sahih. Mengingkari prinsip ini tidak diperbolehkan dalam Islam; bahkan, pengingkaran semacam itu sejalan dengan jalan orang-orang kafir.

Kisah Nabi Khidir (AS) Didukung oleh Dalil Al-Qur'an

Apa yang keberatan dari kisah Nabi Khidir (AS)? Al-Qur'an sendiri menyebutkan beliau dalam Surah Al-Kahfi, dan Hadis-hadis sahih menjelaskan hal-hal yang diperintahkan kepadanya. Kisah ini menetapkan bahwa Allah dapat menugaskan orang-orang tertentu untuk melaksanakan tugas tersembunyi yang terkadang tidak diketahui bahkan oleh para nabi.

Ucapan Nabi Khidir (AS): “Tuhanmu menghendaki” dan “Saya tidak melakukannya atas kehendak saya sendiri” menetapkan bahwa orang-orang tersebut bertindak sesuai perintah ilahi, bukan atas kehendak mereka sendiri.

Dalam Islam, Ilham Ilahi Dapat Diberikan kepada Bukan Nabi

Meskipun syariat ilahi (wahyu yang berisi hukum agama) hanya diberikan kepada para nabi, Allah dapat memberikan ilham kepada yang lain, termasuk orang-orang saleh dan bahkan binatang:

  • Hadhrat Maryam (AS) bukanlah seorang nabi, namun beliau menerima ilham ilahi (Surah Ali Imran ayat 42-47, Surah Maryam ayat 17-26)
  • Tidak ada kesimpulan pasti bahwa Nabi Khidir (AS), Hadhrat Luqman, dan Zulqarnain adalah nabi, namun mereka menerima petunjuk Allah (Surah Al-Kahfi)
  • Bahkan lebah pun menerima ilham dari Allah (Surah An-Nahl)
  • Hadis sahih menyatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa Hadhrat Umar (RA) mendapat ilham dari Allah (Misykat, halaman 554)

Oleh karena itu, penerimaan ilham dari Allah oleh bukan nabi tanpa perantaraan kenabian sepenuhnya sejalan dengan ajaran Islam dan tidak menyiratkan kenabian.

Pengetahuan tentang Hal Gaib Dimungkinkan Melalui Penyingkapan Ilahi (Seseorang hanya dapat mengetahui apa yang Allah SWT izinkan baginya)

Pemahaman terhadap ayat terakhir Surah Luqman (ayat 34) adalah bahwa pengetahuan tentang lima perkara gaib tertentu dan pengetahuan tersembunyi lainnya tidak dimiliki secara mandiri oleh makhluk kecuali melalui wahyu Allah. Tidak ada satu pun makhluk yang memiliki pengetahuan mandiri tentang hal gaib; jika seseorang menerima pengetahuan tentang perkara gaib dari Allah dan menyadarinya, hal ini tidak bertentangan dengan ayat Al-Qur'an tersebut.

  • Nabi Muhammad ﷺ diberitahu tentang banyak perkara gaib (Surah Al-Jinn ayat 26-27)
  • Nabi ﷺ diberitahu terlebih dahulu mengenai wafatnya dan menyampaikan hal ini kepada para sahabatnya, yang membuat Abu Bakar menangis (Misykat, halaman 546)
  • Sebelum Perang Badar, Nabi ﷺ diberitahu tentang tempat-tempat pasti di mana orang-orang Quraisy akan tumbang (Misykat)
  • Nabi ﷺ memberi tahu Abu Zar Ghafari tentang tempat dan keadaan kematiannya, yang terjadi persis seperti yang diramalkan (Hayaatus Sahabah Jilid 3, halaman 78)
  • Hadhrat Abu Bakar diberitahu tentang kehamilan istrinya dengan seorang anak perempuan sebelum wafatnya

Teknologi modern dapat memberikan informasi yang signifikan tentang bayi yang belum lahir melalui USG dan meramalkan kondisi cuaca melalui instrumen khusus. Teknologi-teknologi ini tidak bertentangan dengan ayat Al-Qur'an tersebut karena manusia memperoleh pengetahuan ini melalui sarana perantara, sedangkan pengetahuan Allah tidak memerlukan perantara, bebas dari kesalahan, dan menyeluruh.

Jika seseorang mengetahui waktu kematiannya melalui suatu cara, pengetahuan ini tidak bertentangan dengan Surah Luqman ayat 34.

Konsep Kashf (Penyingkapan Spiritual) Telah Mapan dalam Tradisi Islam

Kashf adalah ketika Allah menyingkapkan perkara-perkara tertentu kepada orang-orang tertentu:

  • Hadhrat Umar (RA) pernah melihat pasukan Muslim saat sedang berkhotbah dan memberikan instruksi kepada mereka dari kejauhan, yang membawa kemenangan mereka atas orang-orang kafir (Misykat, halaman 546, Hayaatus Sahabah Jilid 3, halaman 637)

Mereka yang mengklaim bahwa Kashf dan ilham ilahi hanya khusus bagi para nabi dan tidak dapat dialami oleh yang lain harus memberikan bukti atas klaim mereka.

Ringkasan

  • Kalangan pseudo-Salafi mengklaim bahwa Fadhail Amaal mengandung Syirik dan menggunakan frasa sensasional seperti ‘Penyembahan Kubur’ untuk mengelabui orang.
  • Mukjizat (Mu’jizah bagi para nabi dan Karamah bagi para wali) telah mapan baik dalam Al-Qur'an maupun Hadis-hadis sahih; mengingkarinya bertentangan dengan tradisi Islam.
  • Al-Qur'an menegaskan bahwa Allah SWT dapat memberikan ilham kepada bukan nabi, sebagaimana terlihat pada Maryam (AS), mungkin Khidir (AS), dan lainnya yang disebutkan dalam Al-Qur'an.
  • Pengetahuan tentang perkara gaib dapat diberikan Allah kepada orang-orang tertentu tanpa bertentangan dengan Surah Luqman ayat 34, yang merujuk pada pengetahuan yang mandiri dan menyeluruh.
  • Konsep Kashf (penyingkapan spiritual) memiliki preseden dalam sejarah Islam, termasuk peristiwa-peristiwa yang melibatkan para sahabat Nabi ﷺ.
  • Narasi-narasi dalam Fadhaail-e-A’maal ini selaras dengan keyakinan Islam yang mapan ketika dipahami dengan benar dalam konteks teologisnya.

Sumber: Tuduhan Islam QA Terhadap Fadhaail-e-A’maal