Pertanyaan
Assalamualaikum Mufti Sahib yang terhormat,
Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah pertemuan Tabligh setempat, seorang pembicara mengatakan sesuatu dalam Bayan-nya yang ingin saya sampaikan. Ia berkata:
‘Maksud saya adalah bahwa satu-satunya sebab kesempurnaan Iman adalah amal Dakwah (mengajak kepada Allah). Selain ini, tidak ada amal lain yang dapat menyempurnakan Iman. Tidak ada bentuk ibadah yang menyempurnakan Iman.’
Ia melanjutkan dengan mengatakan:
‘Saya dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada dalil bagi kesempurnaan Iman selain Dakwah. Demi Allah — tidak ada sarana lain yang dapat menyempurnakan Iman: bukan Tahajud, bukan Tilawah (membaca Al-Qur’an), bukan Dzikir (mengingat Allah), bukan puasa, bukan shalat, bukan haji — tidak ada sama sekali.’
Saya menyampaikan hal ini dengan sejelas-jelasnya dan bertanya: Apakah benar mengatakan hal ini? Mohon berkenan memberikan fatwa.
Jawaban – Halaman 1
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Jawaban dengan pertolongan Dzat Yang memberikan keberhasilan
Pertanyaan yang disebutkan merujuk pada pernyataan yang dibuat oleh seorang pembicara yang terhormat dalam sebuah pertemuan Tablighi, di mana dikatakan bahwa satu-satunya sebab kesempurnaan iman (Iman) adalah Dakwah dan Tabligh (mengajak orang lain kepada Islam), dan tidak ada amal lain yang menyempurnakan iman, baik ibadah sunnah maupun lainnya. Pernyataan ini jelas keliru, tidak hanya bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadis, tetapi juga merupakan penyimpangan yang serius.
Sangatlah tidak benar untuk mengatakan bahwa satu-satunya sarana untuk menyempurnakan Iman adalah Dakwah dan bahwa tidak ada amal lain yang berperan dalam penyempurnaannya. Terdapat banyak ayat yang jelas dalam Al-Qur’an dan Hadis yang menunjukkan bahwa amal saleh seperti shalat, puasa, zakat, dan sebagainya, merupakan komponen penting bagi Iman yang sempurna dan diterima. Mengabaikan semua ini dan mengisolasi Dakwah sebagai satu-satunya faktor adalah kesalahan besar.
Nabi ﷺ bersabda:
“Barang siapa memiliki tiga sifat berikut ini akan merasakan manisnya Iman: bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada apa pun selain keduanya; bahwa ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah; dan bahwa ia membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci untuk dilemparkan ke dalam api.”
— [Bukhari & Muslim]
Hadis ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, kecintaan kepada sesama orang beriman, dan kebencian terhadap kekufuran termasuk tanda-tanda Iman yang sejati. Hal-hal ini melibatkan keadaan batin dan amal yang melampaui sekadar Dakwah.
Selain itu, banyak Hadis secara eksplisit menyebutkan bahwa kesempurnaan Iman mencakup menjauhi dosa, bersikap lurus dalam bermuamalah, dan bertakwa kepada Allah dalam segala keadaan. Al-Qur’an berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.”
— [Al-Hujurat: 15]
Dalam Hadis lain, Nabi ﷺ bersabda:
“Tidak sempurna Iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
— [Bukhari & Muslim]
Dalam penjelasan Hadis ini di dalam kitab Mirqat al-Mafatih, dijelaskan bahwa frasa “Iman yang sempurna” merujuk pada kesempurnaan akhlak, ibadah, dan muamalah seseorang. Para ulama dari empat mazhab sepakat bahwa Iman mencakup amal anggota badan sebagaimana juga keyakinan hati dan ucapan lisan.
Kesimpulannya: Mengatakan bahwa Dakwah adalah satu-satunya sebab kesempurnaan Iman dan bahwa tidak ada amal lain seperti shalat, puasa, dzikir, dan sebagainya yang berperan dalam menyempurnakan Iman adalah pernyataan yang keliru dan berbahaya. Iman disempurnakan melalui gabungan keyakinan, ucapan, dan amal saleh, termasuk namun tidak terbatas pada Dakwah.
— Wallahu a’lam.
Jawaban – Halaman 2
Ayat yang dikutip oleh orang tersebut:
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah…
Ayat ini merujuk pada seluruh aspek Islam dan perintah-perintahnya, bukan hanya Dakwah. Konteks ayat ini, serta banyak ayat dan hadis lainnya, menegaskan bahwa keistiqamahan mencakup menjalankan seluruh perintah Allah, bukan hanya amal mengajak orang lain (Dakwah). Oleh karena itu, menafsirkan ayat ini secara eksklusif sebagai merujuk pada Dakwah adalah keliru.
Klaim bahwa Dakwah adalah satu-satunya sebab kesempurnaan Iman juga tidak berdasar, karena banyak ulama telah menulis bahwa terdapat berbagai amal (termasuk shalat, puasa, zakat, dan sebagainya) yang menyempurnakan iman seseorang. Mengisolasi Dakwah dan mengatakan bahwa hanya itu yang menyempurnakan iman adalah sebuah bid’ah dan penyimpangan terhadap agama.
Berbagai jenis kewajiban ada dalam Islam — sebagian wajib bagi setiap individu (fardhu ain), seperti shalat dan puasa, dan sebagian bersifat kolektif (fardhu kifayah), seperti bentuk-bentuk tertentu dari Dakwah. Mengatakan bahwa Dakwah adalah satu-satunya kewajiban dan segala yang lain tidak memiliki peran adalah pertentangan terbuka terhadap Al-Qur’an dan Sunnah.
Allah berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…
— [At-Tahrim: 6]
Ayat ini menjelaskan dengan jelas bahwa tanggung jawab juga berlaku dalam lingkup keluarga dan orang-orang terdekat, bukan hanya Dakwah di ruang publik. Nabi ﷺ bersabda:
Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya…
— [Sahih Bukhari & Muslim]
Ini membuktikan bahwa seseorang bertanggung jawab untuk membimbing dan memperbaiki mereka yang berada di bawah kekuasaannya — dan bahwa ini juga merupakan salah satu bentuk Dakwah.
Adapun ayat:
Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia…”
Ayat ini merujuk pada kebaikan bersama, bukan bahwa setiap individu harus melakukan Dakwah eksternal kepada orang-orang asing. Kewajiban Dakwah publik eksternal (seperti yang dilakukan oleh Jamaah Tabligh) bersifat kolektif, bukan kewajiban pribadi bagi setiap orang, dan bergantung pada kemampuan serta keahlian masing-masing individu.
Hanya ulama yang memenuhi syarat dan berilmu yang boleh ditunjuk untuk menyampaikan Dakwah publik secara terperinci; yang lain hendaknya membatasi diri pada apa yang mereka ketahui dan mampu lakukan dengan benar. Menyampaikan Islam dengan informasi yang keliru dapat menimbulkan kerugian yang lebih besar daripada manfaatnya.
Kesimpulannya, klaim bahwa Dakwah adalah satu-satunya sarana untuk menyempurnakan Iman adalah tidak berdasar, berlebihan, dan bertentangan dengan ajaran Islam.
Wallahu a’lam.
Ditandatangani oleh:
- Mufti Abdul Mannan Niazi
- Mufti Abdul Hameed Azad
- Mufti Muhammad Fazlul Ali
Darul Ifta, Jamia Darul Ulum Karachi
23 Maret 2025

